Pakar Ungkap Modus dan Evolusi Love Scam yang Kian Terstruktur

- Jumat, 06 Februari 2026 | 11:00 WIB
Pakar Ungkap Modus dan Evolusi Love Scam yang Kian Terstruktur

MURIANETWORK.COM - Modus penipuan berkedok asmara atau 'love scam' terus berevolusi seiring kemajuan teknologi, mengincar korban dengan pendekatan yang terstruktur dan manipulatif. Nurlaila Indriani dari Bidang Hukum Relawan Siaga Cerdas memaparkan, pelaku umumnya membangun hubungan emosional yang intens terlebih dahulu untuk memperdaya korbannya.

Membangun Kepercayaan dengan Pendekatan Intens

Menurut Indri, strategi utama pelaku adalah menciptakan ilusi perhatian dan kepedulian yang berkelanjutan. Korban, yang kerap merasa dihargai, secara perlahan menjadi lebih mudah untuk dipengaruhi. Perhatian itu biasanya diekspresikan melalui komunikasi rutin via chat, dari pagi hingga malam, tanpa memberikan tekanan yang berlebihan.

“Itu pasti selalu by chat gitu. Jadi, korban ini merasa bahwa kok ada orang yang perhatian, dia intens dulu. Tapi, kalau korbannya tidak membalas, dia tidak akan mendesak, ada jeda waktu, dan dia itu cukup sabar sampai akhirnya korban ini merasa bahwa ini orang baik,” jelasnya dalam sebuah diskusi media.

Evolusi Modus Operandi dari Masa ke Masa

Modus love scam sendiri bukanlah hal baru. Indri menerangkan bahwa kasus serupa telah tercatat sejak sekitar 2012, dengan pola awal yang sering memanfaatkan foto-foto anggota TNI atau Polri. Targetnya sering kali adalah wanita pekerja yang telah memiliki penghasilan sendiri.

“Modusnya itu mereka mengatakan kalau TNI/Polri itu, saya mau mutasi, jadi saya butuh dana untuk mutasi, tolong dibantu. Nah, tapi itu terjadi setelah membangun kepercayaan itu tadi. Korban membantu karena merasa bahwa ini calon suami saya,” tutur Indri.

Variasi modus lainnya pun bermunculan, seperti mengirim paket fiktif atau mengaku sebagai tentara perdamaian yang bertugas di zona konflik. Tidak sedikit pula pelaku yang mahir berbahasa Inggris dan mengaku berasal dari luar negeri, menambah kesan legitimasi di mata korban.

Kekuatan Ilusi dan Data yang Belum Terungkap

Konsistensi dalam berkomunikasi dan mengirimkan foto meski kerap hasil rekayasa menjadi senjata ampuh pelaku untuk mengukuhkan kepercayaan korban. Ilusi kedekatan inilah yang kemudian membutakan kewaspadaan.

“Jadi, di titik tertentu itu sangat meyakinkan untuk korban karena dia akan kirim foto setiap saat, memberikan kabar setiap saat. Nah, foto-foto itu kadang-kadang meyakinkan korbannya karena intens, merasa ini kayaknya benar, tidak mungkin fake,” ungkap Indri.

Dari catatannya, hanya pada tahun 2024 saja sudah lebih dari 100 laporan kasus yang tercatat dengan data lengkap. Angka ini, menurutnya, hanyalah puncak gunung es. Masih banyak korban yang tidak melapor atau melaporkan kasusnya tanpa melengkapi data, sehingga jumlah sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar.

Modus Kontemporer dan Latar Belakang Pelaku

Perkembangan terbaru menunjukkan pergeseran modus ke ranah investasi. Pelaku mulai mengajak korbannya untuk menanamkan uang dalam sebuah skema investasi, tak jarang dengan dalih mengumpulkan modal untuk pernikahan mereka di kemudian hari.

Dari sisi pelaku, jaringan love scam bersifat global dan terorganisir. Indri menyebutkan, “Sebetulnya kalau untuk pelaku itu kan macam-macam ya. Jadi, ada kalau waktu itu ada yang Nigerian Scammer, lalu ada yang memang pelakunya itu orang China, lalu yang terakhir ini dikendalikan atau akhirnya transfer ke Kamboja.”

Fakta ini menggarisbawahi kompleksitas dan tantangan dalam penanganan love scam, yang membutuhkan kewaspadaan tinggi dari masyarakat dan sinergi antarlembaga untuk penindakannya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar