Kapal Induk dan Ancaman Lama: AS Kembali Mainkan Skrip Usang di Teluk Persia

- Rabu, 04 Februari 2026 | 16:25 WIB
Kapal Induk dan Ancaman Lama: AS Kembali Mainkan Skrip Usang di Teluk Persia

Gambar: Kapal induk AS berlayar di perairan biru.

Februari 2026. Gugus tugas kapal induk USS Abraham Lincoln bergerak lagi, kali ini menuju Teluk Persia. Gerakan ini dibarengi peringatan terbuka dari Donald Trump untuk Iran: jika perundingan gagal, hal "buruk" akan terjadi. Situasinya terasa sangat familiar. Kita mesti bertanya benarkah ini satu-satunya cara menyelesaikan persoalan global di abad sekarang?

Pernyataan terbaru dari Washington itu sungguh mengusik. Polanya selalu sama: diplomasi yang mengandalkan paksaan, dengan kekuatan militer sebagai ujung tombaknya. Ini bukan lagi strategi, tapi sudah jadi prosedur operasi standar AS dalam menangani sengketa. Hegemoni, kalau mau disebut terang-terangan. Dan skrip ini tak cuma berlaku untuk Iran.

Seolah-olah sejarah terus diputar ulang. Menurut sejumlah pengamat, AS punya pola tetap. Pertama, unjuk gigi dengan keunggulan ekonomi dan militernya. Lalu, menetapkan tuntutan sepihak sebagai prasyarat untuk bicara. Akhirnya, memaksa lawannya memilih: terima, atau hadapi konsekuensi serius. Hitam atau putih. Tidak ada nuansa.

Lihat saja apa yang terjadi sekarang. Di satu sisi, kapal induk dikerahkan mendekati pesisir Iran. Di sisi lain, Washington menolak berkomentar soal kemungkinan aksi militer. Mereka bilang ingin berunding, tapi prasyarat yang diajukan sudah bernada ancaman. Ini bukan diplomasi. Ini intimidasi terbuka. Strategi "pentungan di satu tangan, permen di tangan lain" itu sudah ketinggalan zaman. Dari Irak, Suriah, Venezuela, sampai Iran sekarang ancaman kekuatan selalu jadi pilihan pertama.

Namun begitu, pola pikir hegemonik punya kelemahan fatal. Ia sering mengabaikan harga diri dan kehendak sebuah bangsa untuk mandiri. Iran bukan negara baru. Peradabannya tua, budayanya kuat. Tekanan militer belum tentu membuat mereka menyerah. Justru sebaliknya, pencegahan dengan kekuatan sering memicu eskalasi, bukannya meredakan ketegangan. Hasilnya cuma satu: dilema keamanan yang makin ruwet.


Halaman:

Komentar