Pertemuan dengan ormas Islam punya dimensi lain. Hadirnya tokoh seperti Ustaz Bachtiar Nasir dan Ustaz Zaitun Rasmin, ditambah perwakilan NU dan Muhammadiyah, memberi sinyal kuat. Prabowo sedang membangun legitimasi moral dan sosial. Sebuah basis yang penting untuk menghadapi kekuatan lama yang masih bercokol.
“Prabowo sedang membangun legitimasi moral dan sosial. Ini penting untuk menghadapi kekuatan lama yang masih bercokol,”
Kelompok-kelompok yang diundang itu, dalam analisis Amir, tidak serta-merta diminta mengeksekusi tuntutan politik. Mereka lebih berperan sebagai kekuatan penyeimbang. Penyangga saat langkah-langkah pengetatan aliran dana mulai dilakukan.
Tentu saja, pengaruh Geng Solo dan oligarki lainnya masih sangat signifikan. Jejaring bisnis dan kontrol atas sumber keuangan negara mereka masih kuat. Namun begitu, Amir melihat Prabowo sedang memainkan permainan jangka menengah.
“Jokowi mempreteli kekuasaan secara halus selama ini. Prabowo membalasnya dengan cara lebih sunyi, tapi lebih mematikan: lewat moneter,” ujarnya.
Dalam perspektif intelijen, stabilitas negara sangat ditentukan oleh anggaran dan likuiditas. Siapa yang memegang kendali di sini, dialah penguasa sebenarnya.
Keterlibatan ormas Islam, karena itu, bukan sekadar simbolik. Mereka punya kekuatan akar rumput. Jika bisa digerakkan dalam kerangka negara, mereka bisa menjadi penyangga legitimasi yang kokoh. Ini berbeda dengan pendekatan era sebelumnya yang cenderung menekan peran politik Islam.
Momentum ini krusial. Figur-figur kritis seperti Said Didu dan lainnya punya peluang nyata jika bisa bersinergi dengan kebijakan moneter yang sedang disusun.
Pada akhirnya, perang sesungguhnya tidak terjadi di jalanan atau di gedung parlemen. Tapi di ruang-ruang yang sunyi: ruang rapat direksi bank, aliran dana, dan kebijakan moneter. Dan di situlah, menurut Amir Hamzah, Prabowo memilih untuk bermain.
Disarikan dari wawancara dengan pengamat intelijen dan geopolitik.
Artikel Terkait
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai
Kapal Induk dan Ancaman Lama: AS Kembali Mainkan Skrip Usang di Teluk Persia