Prabowo dan Pertemuan Rahasia: Sebuah Perang Senyap Melawan Oligarki?
Pertemuan Presiden Prabowo dengan kelompok-kelompok kritis Jokowi dan sejumlah ormas Islam belakangan ini ramai dibicarakan. Tapi, benarkah ini cuma sekadar silaturahmi politik biasa? Banyak yang melewatkan intinya. Agenda yang tampak di permukaan ternyata menyimpan strategi lain, yang menyasar jantung kekuasaan sebenarnya: uang, likuiditas, dan kendali atas perbankan nasional.
Amir Hamzah, seorang pengamat intelijen dan geopolitik, melihat ini sebagai manuver tingkat tinggi. Bagi publik, mungkin terlihat seperti pertemuan biasa. Namun, ada medan pertempuran lain yang jauh lebih sunyi dan menentukan.
“Dalam negara sehebat apa pun, program sehebat apa pun, tanpa dukungan moneter yang kuat, semuanya tidak ada artinya,”
Begitu penegasan Amir saat berbincang dengan wartawan, Rabu lalu. Intinya sederhana: kekuatan oligarki selama ini bersumber dari akses mereka terhadap likuiditas dan aliran dana yang hampir tak terbatas. Bukan cuma jaringan politik.
Itulah sebabnya, menurutnya, berbagai tuntutan keras dari kelompok kritis seperti mengadili Jokowi atau memakzulkan Gibran seringkali mentah di tengah jalan. Bukan karena tuntutannya keliru, tapi karena pihak yang dituntut punya sumber daya keuangan yang luar biasa besar. “Ini realitas kekuasaan,” tegas Amir.
Ia memberi contoh kasus Riza Chalid dan red notice-nya. Proses hukum internasional yang rumit itu, katanya, justru menunjukkan betapa pengaruh dan jaringan finansial seseorang bisa tetap bekerja di balik layar.
Nah, di sinilah letak keunikan langkah Prabowo. Alih-alih konfrontasi langsung, ia justru memilih jalur yang lebih halus dan mungkin lebih mematikan: moneter dan perbankan.
Isu pergantian direksi Himbara yang diumumkan Sjafrie Sjamsoeddin beberapa waktu lalu, misalnya. Itu bukan sekadar soal rotasi jabatan. Itu adalah sinyal. Sinyal untuk memotong saluran dana. Kalau likuiditas oligarki dipersempit, kekuatan politiknya otomatis ikut melemah.
Di sisi lain, pemberitaan massif soal pertemuan ini juga bukan kebetulan. Ini bagian dari perang persepsi. Untuk menunjukkan bahwa Prabowo berada di barisan depan melawan kelompok yang dianggap merampas kedaulatan bangsa.
Artikel Terkait
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai
Kapal Induk dan Ancaman Lama: AS Kembali Mainkan Skrip Usang di Teluk Persia