"Memangnya, penduduk Aceh dan Sumbar itu tidak bayar pajak, Pak? Hasil alam Aceh dan Sumbar itu tidak dikirim ke Jakarta?"
Logikanya jadi kacau, kan? Saya pribadi, misalnya, sering kesal melihat tingkah pejabat. Tapi saya toh tetap membayar pajak. Kalau mengikuti logika Bapak, ya buat apa? Nggak usah saja. Sudah buku-buku saya dibajak seenaknya, pemerintah terlihat impoten. Lapor ke aparat penegak hukum? Habis uang dan tenaga, hasilnya nol. Lapor ke pimpinan negara? Ah, itu cuma dianggap pencitraan belaka. Duh, bikin frustrasi.
Nah, kalau Bapak anggap omongan seperti ini adalah ciri negarawan simbol patriot yang tetap membangun provinsi 'yang kalah' itu justru terdengar absurd. Menurut saya, analoginya persis seperti orang yang kehilangan dompet di dalam rumah. Tapi karena di luar lebih terang, dia malah sibuk mencarinya di halaman. Salah alamat, begitu kira-kira.
Cobalah berhenti bicara dengan model begini. Soalnya, ini kontraproduktif. Lama-lama, bukan tidak mungkin Aceh betulan ingin merdeka.
(TERE LIYE)
Artikel Terkait
Kim Jong Un Kembali Pimpin Korea Utara, Kim Yo Jong Tak Masuk Komisi Urusan Negara
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Sebagian Besar Sulawesi Selatan
Tanjung Pallette Ramai Pengunjung Saat Libur Lebaran, Namun Angka Turun Dibanding Tahun Lalu
Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman dan Harga Stabil Jelang Lebaran