Kepanikan melanda SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kubu Raya, Selasa lalu. Suara ledakan keras terdengar, bukan sekali, tapi empat kali berturut-turut. Saat itu para siswa sedang menikmati jam istirahat mereka. Seketika, suasana berubah jadi chaos.
Menurut keterangan Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade, ledakan berasal dari bom molotov. Aktivitas belajar langsung dihentikan. Para guru dengan sigap mengevakuasi anak-anak yang panik, dan memutuskan untuk memulangkan mereka lebih awal. Lingkungan sekolah sudah tidak kondusif lagi.
Akibat insiden itu, seorang siswa mendapat luka ringan. Bukan karena ledakan langsung, tapi kakinya menginjak serpihan paku dari material bangunan yang berantakan. Syukurlah, lukanya tidak parah dan ia sudah diizinkan pulang.
Lantas, apa yang mendorong aksi nekat ini? Ternyata, motifnya menyimpan kisah pilu yang sering kita dengar, tapi kerap diabaikan: perundungan atau bullying.
Juru bicara Densus 88, Kombes Pol Myandra Eka Wardhana, mengungkapkan fakta yang memilukan. Pelaku diduga adalah korban bullying dari teman-temannya sendiri. Kehidupan di rumahnya juga disebut tidak mudah, ada masalah keluarga yang membebani.
Rasa sakit yang menumpuk itu akhirnya meledak. Dalam bentuk yang salah dan tragis.
"Balas dendam kemudian dilampiaskan dengan melakukan aksi kekerasan di sekolahnya," jelas Myandra.
Jadi, ini adalah aksi balas dendam. Sebuah ledakan molotov yang lahir dari ledakan emosi yang sudah terlalu lama dipendam. Kasus ini, sekali lagi, menyoroti betapa dalamnya luka yang bisa ditimbulkan oleh perundungan, dan bagaimana ia bisa berujung pada tragedi bagi semua pihak.
Artikel Terkait
Badut dan Penjual Balon di Mojokerto Bacok Istri dan Mertua hingga Tewas, Cemburu dan Utang Puluhan Juta Jadi Pemicu
DPP PAN Tarik Husniah Talenrang dari Ketua DPW Sulsel, Tunjuk Ashabul Kahfi sebagai Plt
Kades Kedaton Tersangka Korupsi Dana Desa Rp448 Juta Selama Tiga Tahun
Majelis Hakim PN Makassar Bebaskan Enam Terdakwa Korupsi Dana Zakat BAZNAS Enrekang