Juru bicara Densus 88, Kombes Pol Myandra Eka Wardhana, mengungkapkan fakta yang memilukan. Pelaku diduga adalah korban bullying dari teman-temannya sendiri. Kehidupan di rumahnya juga disebut tidak mudah, ada masalah keluarga yang membebani.
Rasa sakit yang menumpuk itu akhirnya meledak. Dalam bentuk yang salah dan tragis.
"Balas dendam kemudian dilampiaskan dengan melakukan aksi kekerasan di sekolahnya," jelas Myandra.
Jadi, ini adalah aksi balas dendam. Sebuah ledakan molotov yang lahir dari ledakan emosi yang sudah terlalu lama dipendam. Kasus ini, sekali lagi, menyoroti betapa dalamnya luka yang bisa ditimbulkan oleh perundungan, dan bagaimana ia bisa berujung pada tragedi bagi semua pihak.
Artikel Terkait
Paus Leo XIV Desak Penghentian Konflik Timur Tengah, Sebut Penderitaan sebagai Skandal
Kim Jong Un Kembali Pimpin Korea Utara, Kim Yo Jong Tak Masuk Komisi Urusan Negara
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Sebagian Besar Sulawesi Selatan
Tanjung Pallette Ramai Pengunjung Saat Libur Lebaran, Namun Angka Turun Dibanding Tahun Lalu