Desa Tumbang Darap di Seruyan Hulu, Kalimantan Tengah, punya cerita tentang air. Dulu, untuk sekadar mandi atau masak, warganya harus mengandalkan air sungai. Lalu datanglah Aiptu Nur Cahyo, seorang Bhabinkamtibmas yang tugasnya justru berubah menjadi pencari solusi atas keluhan paling mendasar itu.
Nur Cahyo pertama kali ditugaskan di desa itu pada 2020. Bayangkan saja, saat itu akses internet nyaris tak ada, jalanan masih tanah, dan yang paling menyulitkan: tak ada sumber air bersih yang layak. Kehidupan malam pun bergantung pada jadwal mesin dompeng yang hanya menyala dari jam lima sore hingga sebelas malam.
"Pada awalnya di situ banyak sekali keluhan," ujar Nur Cahyo, mengenang masa-masa awal kedatangannya.
"Mulai dari sarana air bersih, terus penerangan sampai sekarang masih menggunakan mesin dompeng yang jadwal hidupnya dari jam 5 sore atau 17.00 WIB sampai jam 23.00 WIB. Jadi selebihnya ada yang pake panel, ada bantuan itu," jelasnya.
Desa dengan 340 kepala keluarga ini mayoritas hidup dari bertani dan berladang. Namun, bertahun-tahun harapan mereka sederhana: air bersih yang bisa mengalir langsung ke dapur atau kamar mandi. "Dengan keluhan-keluhan dan masyarakat mengharapkan air bersih yang sudah siap ada di WC atau di dapur," tuturnya.
Mendengar hal itu, Nur Cahyo tak bisa hanya diam. Dia lantas mengajak perangkat desa dan para tokoh masyarakat duduk bersama. Tujuannya satu: mencari jalan keluar. Setelah melalui beberapa kali rapat, akhirnya muncul titik terang. Mereka menemukan potensi sumber air bersih di Sungai Durian.
Masalahnya, lokasinya cukup jauh, sekitar 7-8 kilometer dari pemukiman warga.
"Alhamdulillah setelah rapat akhirnya kita survei dan ternyata ada di Sungai Durian," katanya.
Tantangan berikutnya justru lebih nyata: biaya. Membeli paralon untuk jarak sejauh itu bukan perkara murah. Tapi di sinilah semangat gotong royong warga Tumbang Darap benar-benar berbicara. Dengan antusias, mereka bahu-membahu membersihkan lahan, membangun bendungan sederhana, hingga mengangkut dan memasang paralon-paralon itu.
"Jadi masyarakat antusias sekali, akhirnya bersama-sama," kenang Nur Cahyo dengan nada bangga.
Proses yang dirintis sejak 2022 itu akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2023, impian lama warga menjadi kenyataan. Air bersih dari Sungai Durian akhirnya mengalir lancar, langsung ke rumah-rumah mereka.
"(Dari tahun) 2023 itu Alhamdulillah sudah mulai dan sampai sekarang sudah nyampai di rumah masing-masing," imbuhnya.
Kini, cerita tentang perjuangan mendapatkan setetes air bersih di desa terpencil itu telah berakhir. Berkat inisiatif seorang polisi dan semangat kebersamaan warga, Tumbang Darap tak lagi bergantung pada air sungai untuk kehidupan sehari-hari.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Doakan Ekonomi Indonesia Makin Kuat saat Berangkat Haji 2026
Wakil Ketum PSI Dilaporkan Balik Usai Dianiaya Saat Dampingi Audiensi Buruh
Badut Penjual Balon di Mojokerto Bunuh Ibu Mertua dan Lukai Istri, Diduga Dipicu Masalah Ekonomi dan Cemburu
Tiga Korban Selamat Kecelakaan Maut Bus ALS di Sumatera Alami Trauma Berat Usai Lompat dari Kendaraan yang Terbakar