Mooncake di Imlek 2026: Simbol Kebersamaan yang Lahir dari Pemberontakan Rahasia

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 13:30 WIB
Mooncake di Imlek 2026: Simbol Kebersamaan yang Lahir dari Pemberontakan Rahasia

Ketika perayaan Imlek 2026 tiba, meja-meja riang pasti akan dihiasi oleh kehadiran mooncake. Kue bulan ini memang sudah jadi bagian tak terpisahkan dari tradisi. Bukan cuma di Imlek, sebenarnya, tapi juga di berbagai festival lain. Namun begitu, momen Tahun Baru Cina selalu jadi saat di mana kue ini menemukan panggung utamanya.

Sudah ribuan tahun mooncake dikenal. Asalnya dari Tiongkok, dan meski awalnya erat dengan Festival Pertengahan Musim Gugur, popularitasnya merambah luas. Kini, ia identik dengan Imlek. Lebih dari sekadar makanan, mooncake adalah simbol. Simbol kebersamaan, harapan, dan tentu saja, sejarah panjang yang sarat makna.

Sebenarnya, apa sih mooncake itu?

Bentuknya bulat atau persegi, ukurannya cukup besar sekitar 10 sentimeter diameternya dengan ketebalan 4-5 sentimeter. Kulitnya tipis, cuma 2-3 milimeter, dan di bagian atasnya biasanya ada hiasan pola atau tulisan Mandarin yang indah. Isinya? Sangat beragam. Ada yang pakai pasta biji lotus, pasta kacang merah, atau kacang hijau. Yang klasik, sering juga ada kuning telur asin di tengahnya, yang konon melambangkan bulan purnama dan kemakmuran.

Rasanya manis, agak berminyak, dan kaya. Makanya, orang biasa menyantapnya sedikit-sedikit, dipotong kecil. Untuk Imlek 2026 nanti, makna simbolisnya tetap sama: keberuntungan dan keutuhan keluarga.

Cerita di Balik Sejarahnya

Menurut sejumlah catatan, sejarah mooncake punya momen dramatis di masa Dinasti Yuan. Waktu itu, sekitar tahun 1271-1368, kekuasaan Mongol tengah berjaya. Rakyat Han yang ingin memberontak kesulitan menyebarkan pesan secara rahasia.

Lalu, muncul ide cerdas dari seorang konselor militer bernama Liu Bowen.

Dia menyebarkan isu tentang wabah penyakit musim dingin yang katanya hanya bisa disembuhkan dengan makan mooncake. Ternyata, di dalam kue-kue itu, diselipkan pesan rahasia: “Pemberontakan pada malam Mid-Autumn Festival.”

Strategi itu jitu. Mooncake laris dibeli masyarakat, pesan tersebar, dan ketika festival tiba, pemberontakan pun pecah. Kekuasaan Mongol akhirnya runtuh. Sejak peristiwa itu, tradisi makan mooncake makin mengakar dan bertahan sampai sekarang, termasuk di perayaan Imlek mendatang.

Bukan Sekadar Makan, Ini Tradisi

Awalnya, tradisi makan kue bulan ini terkait dengan Festival Pertengahan Musim Gugur. Masyarakat Tionghoa merayakan bulan purnama sebagai lambang kebersamaan dan rasa syukur atas panen. Persembahannya dulu sederhana, cuma buah-buahan seperti apel atau anggur plus dupa. Ritual ini sudah berlangsung sejak ribuan tahun sebelum Masehi.

Seiring waktu, mooncake menggantikan persembahan sederhana itu. Tradisinya lalu menyebar ke mana-mana, termasuk ke Indonesia, dan bertahan kuat hingga Imlek 2026 nanti.

Isi dan Kulitnya Bervariasi

Isian tradisional mooncake punya beberapa jenis utama. Pasta biji lotus dianggap yang paling mewah dan bernilai tinggi. Lalu ada pasta kacang manis, biasanya dari kacang azuki atau kacang hijau. Ada juga pasta jujube yang rasanya manis asam, dan ‘five kernel’ yang isinya campuran lima jenis kacang serta biji-bijian.

Kulitnya juga beragam. Ada yang kenyal, ada yang berlapis-lapis renyah ala Suzhou, dan ada yang lebih lembut. Gaya pembuatannya pun berbeda-beda tiap daerah. Gaya Kanton yang mendunia, gaya Beijing yang renyah, atau gaya Yunnan yang lebih manis.

Sekarang, inovasinya makin kreatif. Sudah ada mooncake rasa keju, abon ayam, tiramisu, bahkan es krim. Semua itu tetap dicari, terutama saat mendekati Imlek.

Keberadaannya di Indonesia

Mooncake masuk ke Indonesia seiring dengan gelombang imigran Tionghoa. Di Semarang, misalnya, mooncake gaya Kanton dan Suzhou sudah jadi legenda, dijual oleh restoran dan toko kue ternama. Yang menarik, di sini mooncake beradaptasi jadi pia sebutan yang berasal dari dialek Hokkian.

Contohnya bakpia Pathok dari Yogyakarta atau pia khas Malang. Itu semua turunan dari mooncake gaya Suzhou dan Tiociu. Kulitnya lebih berlapis dan renyah. Dulu pakai lemak babi, sekarang sudah disesuaikan dengan selera lokal. Jadi, dalam perayaan seperti Imlek 2026, mooncake dan pia ini adalah bukti akulturasi yang memperkaya kuliner Nusantara.

Intinya, mooncake di Imlek 2026 bukan cuma kue biasa. Dia adalah alat perekat hubungan keluarga, sering dijadikan hantaran yang bermakna doa rezeki dan kebahagiaan. Secara ekonomi, proses pembuatannya yang rumit juga memberi nilai tambah dan berkah bagi para perajinnya.

Memang, kita sekarang tidak lagi hidup bergantung pada panen. Tapi rasa syukur dan kebersamaan yang diwakili mooncake tetap relevan. Kue ini telah melintasi zaman dan batas geografi, menjadi simbol budaya yang hidup. Saat Imlek 2026 dirayakan, mooncake mengingatkan kita bahwa tradisi dan sejarah selalu berjalan beriringan dengan hangatnya kebersamaan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar