Suasana di Istana Merdeka, Selasa siang itu, terasa hangat dan akrab. Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan perwakilan 16 ormas Islam, para kiai, dan tokoh-tokoh penting dari berbagai pondok pesantren. Pertemuan yang berlangsung sekitar empat jam ini membahas banyak hal, tapi satu topik yang menonjol adalah soal keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace sebuah dewan perdamaian yang digagas Presiden AS Donald Trump.
Di hadapan para ulama, Prabowo menjelaskan alasan pemerintah mengambil langkah ini. Penjelasannya cukup gamblang. Intinya, beliau ingin Indonesia punya posisi strategis untuk benar-benar membela rakyat Palestina. “Hal-hal yang nanti dilakukan di dalam dewan tersebut akan menjadi langkah yang terkonsolidasi di antara negara-negara yang memang pada dasarnya dan menjadi motivasi mereka berpartisipasi di dalam dewan itu untuk membela dan membantu Palestina,”
Begitu penuturan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, usai acara. Gus Yahya begitu ia biasa disapa juga menambahkan poin penting lain dari penjelasan presiden.
“Presiden sudah memberi penjelasan tadi, kita nanti akan berpartisipasi dengan mengirimkan pasukan perdamaian yang tugas absolutnya adalah melindungi rakyat Palestina,” ucapnya.
Dari Ragu, Jadi Dukungan
Nah, awalnya kan ada beberapa pihak yang ragu. Tapi menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, pertemuan itu berjalan sangat kondusif. Setelah mendengar penjelasan langsung dari Prabowo mulai dari analisis situasi global, kondisi di Palestina, sampai komitmen Indonesia dukungan pun mengalir. “Alhamdulillah semua ormas Islam sangat mendukung langkah politik pemerintah Indonesia untuk terlibat dalam BoP,” tutur Mu’ti.
Artikel Terkait
KPK Gelar Ops Tangkap Tangan di Jakarta dan Banjarmasin, Status Tersangka Masih Dirahasiakan
Peta Jalan AI Indonesia 2026-2029 Resmi Dikebut, Dukung Program Makan Bergizi Gratis hingga Perangi Hoaks
Kritik Khozinudin ke MUI: Dukung Dewan Perdamaian Trump, Legitimasi Kezaliman Israel?
Pramono Anung Larang Atap Seng untuk Rumah Baru di Jakarta