Itulah mengapa kisah sapi ini diangkat jadi nama surat terpanjang. Al-Baqarah ingin menegaskan prinsip dasar. Iman yang sejati itu bukan soal debat kusir atau wacana. Iman adalah tentang ketundukan, lalu bergerak. Ketaatan diukur dari kecepatan kita merespons, bukan dari panjangnya diskusi.
Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda, rumah yang dibacakan Surat Al-Baqarah tidak akan dimasuki setan.
Mungkin bukan semata karena panjangnya. Tapi karena surat ini melatih mental untuk patuh. Ia membentuk karakter mukmin sejati: menerima perintah dengan lapang dada, tanpa perlawanan terselubung di dalam hati.
Makanya, surat ini terasa berat bagi orang munafik. Ia menuntut keselarasan antara kata dan perbuatan. Tapi bagi orang beriman, Al-Baqarah justru menenangkan. Ia memberikan peta jalan yang jelas. Tentang apa yang harus diyakini, apa yang harus dikerjakan, dan bagaimana bersikap ketika keinginan pribadi berbenturan dengan perintah-Nya.
Pada dasarnya, Al-Baqarah adalah sebuah cermin. Ia memantulkan sikap asli kita saat berhadapan dengan ketetapan Allah. Apakah kita termasuk yang taat, atau justru ahli mencari pembenaran? Allah menamainya 'Sapi' agar kita selalu ingat. Yang memberatkan itu bukan syariat-Nya, melainkan hati kita sendiri yang enggan. Kalau ingin hidup terasa lebih ringan, mungkin yang perlu kita latih bukanlah skill berdalih. Tapi kesederhanaan dalam taat.
Artikel Terkait
MUI Balik Haluan, Dukung Langkah Prabowo di Dewan Perdamaian Gaza
Kemenhaj Perketat Pengawasan, Lindungi Jemaah Umrah dari Pelanggaran
Bachtiar Nasir Desak Diplomasi Indonesia di Board of Peace Tak Sekadar Stempel
Longsor Dahsyat di Ciamis, Satu Warga Tewas Tertimbun