"Ini kita buka-bukaan aja pak," ujarnya.
"Artinya ini sebenernya juga harus ada perlu oleh PPATK melakukan koordinasi kembali. Dari hasil-hasil yang bapak sampaikan, follow upnya bagaimana?"
Lebih Dari Sekadar Blokir Rekening
Di sisi lain, Andi Amar dari Gerindra membawa persoalan ke hulu. Baginya, fokusnya harus diubah. Jangan cuma sibuk memblokir rekening, tapi sumber utamanya: website dan aplikasi judi itu sendiri.
"Yang jadi pertanyaan kami bukan masalah blokir rekeningnya pak," ucap Andi.
"Apakah tidak ada solusi untuk mengintervensi website ataupun aplikasi yang terindikasi melakukan kegiatan judol? Mungkin bekerja sama dengan Komdigi. Ini kan bisa menjadi solusi jangka panjang."
Permintaannya punya alasan kuat. Indonesia, dengan jumlah penduduknya yang besar, telah menjadi pasar empuk bagi judi online. Situasinya mirip dengan pasar narkoba.
"Karena Indonesia ini dengan jumlahnya sangat besar, kita menjadi pasar Pak," tandasnya dengan nada prihatin.
"Bagaimana dicegah itu pak?"
Rapat itu pun berakhir dengan segudang tanda tanya, jauh lebih banyak daripada kepastian. Klaim penurunan itu, alih-alih menjawab masalah, justru membuka lebih banyak pertanyaan tentang efektivitas dan strategi pemberantasan judi online ke depannya.
Artikel Terkait
Mentan Amran Rayakan Idulfitri dan Dengarkan Aspirasi Warga di Kampung Halaman Bone
Menag Ajak Umat Islam Perkuat Empati dan Kepedulian Sosial di Idulfitri
Khatib di Makassar Ingatkan Jemaah Idul Fitri untuk Berbakti kepada Orang Tua
Bournemouth Tahan Imbang Manchester United 2-2 dalam Drama Gol Bunuh Diri dan Kartu Merah