Bosnia hingga Gaza: Cermin Kelam Perdamaian yang Dipaksakan

- Selasa, 03 Februari 2026 | 07:50 WIB
Bosnia hingga Gaza: Cermin Kelam Perdamaian yang Dipaksakan

Logika semacam ini masih hidup sampai sekarang.

Dalam pidato video Desember lalu, Perwakilan Tinggi saat ini, Christian Schmidt dari Jerman, memperingatkan, “sebagian orang hari ini menunjuk jari kepada komunitas internasional dan para wakilnya, sambil menolak mengingat bahwa tanpa intervensi internasional betapapun terlambatnya Bosnia dan Herzegovina akan terjerumus ke dalam kekacauan dan keputusasaan.”

Ia menyebut Dayton sebagai “dasar bagi masa depan”, meski “bukan masa depan itu sendiri”. Pidatonya ditutup dengan seruan samar untuk “bertindak”, bukan “mengeluh”. Tapi siapa yang harus bertindak, dan bagaimana caranya? Itu tidak dijelaskan.

Tapi Bosnia bukan cuma cerita pasrah. Ada juga perlawanan. Tahun 2014, ketidakpuasan meledak. Bermula di Tuzla, lalu menyebar ke lebih dari 20 kota dalam hitungan hari. Para pekerja memimpin demo. Warga menduduki ruang publik, menggelar majelis terbuka, merumuskan tuntutan politik. Untuk sejenak, kami merasakan demokrasi di luar kerangka kendali asing yang selama ini membelenggu.

Responsnya? Represi. Pembungkaman. Pengabaian. Komunitas internasional cuma menonton. Saat protes akhirnya mereda karena tekanan politik dan kelelahan, tidak ada perubahan institusional yang mengikuti.

Protesnya berhenti, tapi jejaknya masih tertinggal. Terutama dalam bentuk grafiti di gedung-gedung pemerintahan. Mungkin yang paling terkenal ada di fasad Gedung Kanton Sarajevo, bertuliskan: “Mereka yang menabur kelaparan akan menuai kemarahan.”

Setelah itu, yang terjadi adalah eksodus massal. Hampir setengah juta orang meninggalkan Bosnia sejak 2014. Banyak lainnya antre menunggu kesempatan pergi. Sementara itu, nasionalisme dulu ideologi masa perang kini jadi alat pemerintahan. Dipakai elite lokal, dan ditoleransi, bahkan distabilkan, oleh komunitas internasional.

Seperti ditulis Gorana Mlinarević dan Nela Porobić dalam publikasi mereka, perdamaian “tidak dimulai dan tidak berakhir dengan penandatanganan sebuah perjanjian damai”. Perdamaian yang dipaksakan di Bosnia telah membebani kehidupan politik, ekonomi, dan sosialnya selama puluhan tahun. Beban serupa kini membayangi Gaza.

Kalau ditanya, apakah perjanjian damai Bosnia sukses? Kebanyakan orang di sini akan bilang iya, karena perang berhenti. Itu benar. Tapi perdamaian yang cuma menghentikan kekerasan, tanpa memberi ruang bagi kebebasan dan martabat, bukanlah perdamaian sejati.

Perdamaian yang dipaksakan dari atas menciptakan stabilitas tanpa keadilan. Pemerintahan tanpa demokrasi. Bosnia sebagai semi-protektorat harusnya jadi peringatan, bukan model. Perdamaian dan demokrasi tak mungkin hidup tanpa partisipasi rakyat. Tanpa menghargai kehendak mereka. Sayangnya, “standar internasional terbaik” justru sering mengabaikan hal ini.

Bosnia tak boleh terulang. Gaza harus ditangani dengan cara berbeda. Itu mungkin, tapi hanya jika rakyat Gaza dan warga Palestina lainnya dilibatkan secara sungg-sungguh. Mereka harus punya kekuasaan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Nidžara Ahmetašević adalah seorang jurnalis, akademisi, dan aktivis. Ia menulis The Media as a Tool of International Intervention: House of Cards dan turut menulis studi Repackaging Imperialism: The EU-IOM Border Regime in the Balkans. Ia tinggal dan bekerja di Sarajevo.


Halaman:

Komentar