4) Kami “menyepakati” bahwa agenda dan program pengembalian kedaulatan negara dan rakyat harus jadi prioritas, serta pemberantasan korupsi, pengembalian sumber daya alam dll.
5) Issu- issu strategis dan sensitif seperti Reformasi Polri, BoP (Board of Peace) Gaza juga dibahas serta isu-isu lainnya. Ini menunjukkan bhw Bapak Presiden @prabowo sangat terbuka untuk berdiskusi.
6) Setelah pertemuan tersebut, kami akan “beroposisi” kepada pihak-pihak yang menghalangi agenda pengembalian kedaulatan politik, ekonomi, hukum, sumber daya alam, dan kedaulatan wilayah yang telah “direbut” oleh Oligarki bersama antek-anteknya.
Terima kasih kepada Bpk Presiden @prabowo atas penerimaannya dan berkenan berdiskusi dengan kami.
Jadi, lewat cuitan panjangnya, Said Didu menggambarkan diskusi yang dinamis dan langsung dipimpin Prabowo. Topiknya berat-berat, mulai dari reformasi Polri sampai soal perdamaian Gaza. Yang menarik, di poin terakhir, mereka menyatakan akan "beroposisi" bukan kepada pemerintah, melainkan kepada pihak-pihak yang dianggap menghalangi agenda pemulihan kedaulatan.
Pertemuan ini tentu saja mengundang tanya. Apa artinya? Sebuah pembukaan dialog, atau mungkin sinyal politik baru? Waktulah yang akan menjawab.
Foto atas: Abraham Samad bersama sejumlah tokoh lain dalam sebuah audiensi di KPK pada akhir 2024.
Artikel Terkait
Siham, Penyandang Autis Asperger, Sukses Pertahankan Skripsi tentang Perilaku Domba di UGM
Program Makan Bergizi: Saat Pendidikan Dijadikan Tumbal Popularitas
Dokter Anak Tangani Balita Kejang di Pesawat, Penerbangan Tetap Lanjut
Negara Hukum atau Negara Opini? Ancaman Tafsir Liar di Ruang Publik