Di sisi lain, Gus Ipul juga menyinggung soal toleransi. Ia sangat mengapresiasi pertunjukan tari yang ditampilkan siswa, di mana anak-anak dari latar belakang agama berbeda Muslim, Katolik, Nasrani tampil kompak di satu panggung. "Ini adalah pendidikan kerukunan yang dikembangkan di Sekolah Rakyat," ujarnya.
Namun begitu, ia memberikan catatan tegas. Sekolah harus menjadi zona aman bagi semua anak.
Pendapat senada datang dari Jonna Damanik, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND). Ia mengapresiasi model kurikulum Multi Entry Multi Exit yang diterapkan. Menurut Jonna, filosofi ini memungkinkan siswa, termasuk penyandang disabilitas seperti Alifa, belajar sesuai bakat dan minat mereka.
Acara hari itu juga dihadiri sejumlah pejabat, seperti Wakil Bupati Deli Serdang Lom Lom Suwondo, Anggota Komisi VIII DPR M Husni, dan Sekjen Kemensos Robben Rico. Mereka menyaksikan langsung berbagai penampilan bakat siswa, mulai dari tarian, paduan suara, pembacaan puisi, hingga pidato dalam bahasa Inggris dan Arab. Sebuah pertunjukan yang menunjukkan, di tengah perbedaan, kolaborasi yang indah tetap bisa tercipta.
Artikel Terkait
Di Balik Panasnya Aspal Skanda, Nurlia Berjuang untuk Sekolah Anak-anaknya
Sumbar Pimpin Progres Huntara, Aceh Masih Tertinggal
Jenazah Wagub Sulbar Tiba di Jakarta, Akan Dimakamkan di Kalibata
Rakornas 2026: Titik Temu Pusat dan Daerah untuk Pacu Indonesia Emas 2045