Dampaknya langsung terasa. Sekitar tiga perempat operasi pemerintah federal kini terpaksa berhenti atau melambat. Berbagai lembaga, yang menangani urusan mulai dari pendidikan, kesehatan, sampai perumahan, harus bersiap menjalani prosedur darurat. Layanan publik dipastikan bakal terganggu.
Meski situasinya suram, ada secercah harapan. Para pemimpin dari kedua partai di Kongres memperkirakan gangguan ini tak akan berlangsung lama. Pasalnya, Senat sebenarnya sudah meloloskan sebuah paket. Paket itu membiayai sebagian besar lembaga federal hingga September mendatang. Untuk DHS, ada dana darurat dua pekan yang disisipkan, memberi waktu bagi negosiasi kebijakan imigrasi yang alot untuk terus berjalan.
Nah, bola kini ada di tangan Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka dijadwalkan kembali bersidang pada Senin depan. Jika mereka bisa segera meratifikasi kesepakatan dari Senat dan itu kemungkinan besar terjadi maka pendanaan pemerintah bisa dipulihkan hanya dalam hitungan hari.
Tapi, bayang-bayang ketidakpastian tetap ada. Kalau penutupan ini berlarut-larut, konsekuensinya serius. Puluhan ribu pegawai federal terancam dirumahkan tanpa gaji. Atau, lebih buruk lagi, mereka dipaksa tetap bekerja tanpa menerima bayaran sampai anggaran akhirnya disahkan.
Presiden Donald Trump sendiri sudah menyatakan dukungannya pada kesepakatan Senat. Ia mendesak DPR untuk bertindak cepat. Trump jelas ingin menghindari skenario terburuk: shutdown berkepanjangan. Bila ini terjadi, ini akan menjadi penutupan pemerintah kedua selama masa jabatan keduanya. Kita masih ingat, shutdown terlama tahun lalu sempat melumpuhkan layanan federal selama lebih dari sebulan kekacauan yang pasti tidak ingin diulang oleh siapa pun.
Artikel Terkait
SBY Rayakan Lebaran dengan Open House Internal di Cikeas, AHY Dampingi Presiden
KPK Tahan Mantan Stafsus Menag Gus Alex Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji
BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,75% untuk Antisipasi Dampak Gejolak Global
Mentan Amran Borong Takjil Pedagang di Bone, Bagikan Gratis ke Warga