Narasi di linimasa makin beragam. Seorang netizen lain, @rafinashra, menyoroti alasan di balik reaksi keras tersebut. Menurutnya, IHSG selama ini jadi kebanggaan sekaligus tameng untuk menunjukkan performa ekonomi.
"IHSG itu dijaga banget, soalnya cuma itu andalan dia buat bilang ekonomi Indonesia bagus. Sekarang mau pamer apa lagi? Pertumbuhan GDP mandek, penerimaan pajak jeblok, investasi merosot, pengangguran malah naik," tulisnya.
Di sisi lain, ada yang melihatnya dari kacamata politik. Akun @OjanInter memberikan pandangan yang lebih sinis tentang hubungan kekuasaan.
"RI 1 cuma tunduk sama konglomerat karena merekalah yang biayai kampanye pilpres. Gampang ditebak sih," kicaunya.
Gelombang pengunduran diri di tubuh otoritas pasar modal ini jelas meninggalkan kesan mendalam. Bukan cuma soal angka indeks yang merah, tapi lebih pada pesan politik dan ekonomi yang tersirat. Ruang obrolan publik pun dipenuhi tafsir, dari yang sekadar guyonan sampai analisis pedas. Semuanya berbaur, mencoba memahami sebuah peristiwa yang jauh dari sederhana.
Artikel Terkait
Bumi Memanas Lebih Cepat, KLHK Buru-buru Tinjau Ulang Tata Ruang
Kematian di Tangan ICE: Krisis Kepercayaan dan Gelombang Protes yang Mengguncang Amerika
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI
Brian Yuliarto Buka Kartu: Kampus dan Industri Harus Jalin Kolaborasi Nyata untuk Pacu Ekonomi