Beijing Hukum Mati Bos Mafia Myanmar, Sinyal Keras untuk Pelaku Penipuan Lintas Batas

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:40 WIB
Beijing Hukum Mati Bos Mafia Myanmar, Sinyal Keras untuk Pelaku Penipuan Lintas Batas

Para bos klan pun diciduk. Lebih dari 60 anggota keluarga dan anak buahnya diserahkan ke polisi China. Ming Xuechang, sang patriark klan Ming, dilaporkan bunuh diri dalam tahanan.

Yang bikin merinding, dalam pemeriksaan, salah satu anggota keluarga mengaku pernah membunuh orang secara acak hanya untuk pamer kekuasaan. Otoritas China sengaja membeberkan pengakuan ini, sebagai pembenaran untuk hukuman yang mereka jatuhkan.

Saat ini, lima anggota klan Bau masih menunggu giliran eksekusi. Sementara proses hukum untuk keluarga Wei dan Liu masih berjalan.

Kejahatan yang Terlalu "Dekat Rumah"

Keempat klan ini etnis Tionghoa. Mereka punya koneksi kuat dengan aparat di Provinsi Yunnan, China. Skala kejahatan mereka, yang mayoritas korbannya warga China sendiri, dianggap sudah melampaui batas. Beijing tak bisa lagi tutup mata.

Operasi di Laukkaing adalah tindakan terkeras China sejauh ini dalam memerangi penipuan lintas negara. Mereka juga mendesak Thailand dan Kamboja untuk mengekstradisi para bos judi dan penipuan yang berkeliaran di Asia Tenggara.

Tak hanya pelaku, puluhan ribu warga China yang terjebak kerja paksa di kompleks penipuan itu juga dipulangkan untuk kemudian diadili di tanah air.

Jaringannya Tak Benar-Benar Padam

Tapi, bisnis kotor semacam ini punya nyawa yang bandel. Di Kamboja, sektor ini masih disebut-sebut sebagai salah satu penggerak ekonomi. Di Myanmar, mereka menggeser operasi ke wilayah-wilayah baru, meski beberapa pusat besar di perbatasan Thailand-Myanmar sudah digrebek.

Nah, eksekusi cepat terhadap keluarga Ming itu adalah sinyal. Jelas dan keras. Pesannya: kalau warganya dirugikan, meski kejadiannya di seberang perbatasan, Beijing akan bertindak. Tanpa ragu.


Halaman:

Komentar