"Ishlah diterapkan untuk menghapus semua perbedaan dan perselisihan dan kembali kepada default, kembali kepada asal keberadaan PBNU ini sebelum terjadi perselisihan. Dan saya kira kita semua juga sudah tahu kemarin sore sudah terjadi semacam peneguhan tentang hal itu," tambahnya.
Intinya, semua pihak sepakat untuk melanjutkan perjalanan sejarah NU, merujuk kembali pada jejak para pendahulu seperti Kiai As'ad Syamsul Arifin, Syaikhuna Kholil Bangkalan, hingga Hadratus Syaikh Kiai Muhammad Hasyim Asy'ari.
Di sisi lain, persiapan menuju masa depan juga terus digeber. Roadmap 25 tahun NU pasca Muktamar Lampung mulai digodok. Bahkan, sudah diuji publik lewat halaqah di Makassar akhir Januari lalu.
Tak cuma itu, ada lagi agenda strategis yang bakal diluncurkan. Ini terkait kerja sama internasional.
"Sore ini, ada peluncuran Nahdlatul Ulama Harvest Maslahah Initiative ya. Jadi inisiatif program yang merupakan kerja sama internasional Nahdlatul Ulama dengan entitas bisnis internasional dalam hal ini adalah Harvest Corporation yang berbasis di Singapura," jelas Gus Yahya.
"Jadi ini adalah inisiatif untuk membangun satu basis pelayanan syariah global bersama-sama dengan Harvest Corporation dan kami namai agenda ini sebagai Nahdlatul Ulama Harvest Maslahah Initiative. Sore ini nanti insyaallah akan kami luncurkan," pungkasnya.
Jadi, perhelatan besok bukan sekadar seremoni. Tapi juga momentum ishlah, silaturahmi akbar, dan lompatan NU menuju kiprah globalnya.
Artikel Terkait
Pidato Haru Mahasiswi Indonesia di Al-Azhar Berbuah Beasiswa Langsung dari Syaikh
Kemenkes Angkat Bicara Soal Tren Gas Tertawa: Bisa Berujung Maut
Kemenkes Buka Suara soal Nitrous Oxide Usai Kasus Lula Lahfah
Tiga Golongan yang Dijanjikan Perlindungan Saat Kekacauan Hari Kiamat