Menurut Agung, para pelaku usaha kini lebih memilih bersikap hati-hati. Mereka menunggu instruksi resmi dari Kemenkes sebelum mengambil keputusan terkait perjalanan turis India.
"Mereka pasti akan mendeteksi dulu, merujuk pada informasi dari WHO atau lembaga lain. Kalau Kemenkes bilang 'stop', ya kita stop. Jangan ambil kesimpulan sendiri-sendiri. Soalnya, sejak pandemi COVID-19, pertukaran informasi antar-instansi sudah jauh lebih integrated," jelasnya.
Di sisi lain, upaya pencegahan di pintu masuk sudah ditingkatkan. Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) Denpasar memperketat pengawasan terhadap penumpang yang datang dari India. Dua thermal scanner dipasang di terminal kedatangan internasional, ditambah satu lagi di area domestik Bandara Ngurah Rai.
Jika ada penumpang yang terdeteksi demam, mereka akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Bahkan, jika dicurigai mengidap virus Nipah, penumpang akan dirujuk ke RSUP Prof. IGNG Ngoerah. Sampel toraks pun akan diambil dan dikirim ke laboratorium di Surabaya untuk konfirmasi.
Kewaspadaan ini punya alasan kuat. Data BPS Bali mencatat, sepanjang Januari hingga November 2025, turis India adalah penyumbang kunjungan terbesar kedua ke Pulau Dewata. Angkanya mencapai 511.916 orang. Posisi puncak masih dipegang Australia dengan 1,4 juta lebih wisatawan, sementara Malaysia berada di peringkat kelima.
Jadi, situasinya memang cukup unik. Di satu sisi, ancaman kesehatan nyata ada. Namun di sisi lain, geliat pariwisata setidaknya untuk saat ini masih berdenyut seperti biasa. Semuanya kini bergantung pada koordinasi dan keputusan yang diambil dalam hari-hari mendatang.
Artikel Terkait
Sorotan Publik: Kondisi Fisik Jokowi Diperbincangkan Usai Penampilan Terbaru
Karung Misterius di Pekarangan Cilacap Berisi Jasad Balita
Gelombang Protes di USU: Rektor Diduga Masuk Lingkaran Korupsi Proyek Jalan
Mayat di Gumuk Pasir Parangtritis Teridentifikasi, Dua Tersangka Diringkus Polisi