Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Picu Ancaman Posisi Kapolri

- Jumat, 30 Januari 2026 | 08:25 WIB
Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Picu Ancaman Posisi Kapolri

Kemarahan Presiden andaikata benar ada harusnya dibaca sebagai alarm, bukan sekadar urusan personal. Prabowo sendiri dikenal sebagai figur yang sangat peka terhadap isu stabilitas nasional dan disiplin hierarki. Dia paham betul sejarah kelam konflik di tubuh aparat pada masa lalu.

tambahnya.

Karena itu, pergantian Kapolri bisa dilihat sebagai langkah pencegahan. Sebuah tindakan korektif untuk menjaga netralitas dan profesionalitas institusi. Amir juga mengingatkan soal bahaya loyalitas yang salah alamat. Dalam negara hukum, loyalitas aparat harusnya mengacu pada UUD 1945 dan sistem demokrasi, bukan pada figur tertentu.

"Hari ini bilang loyal ke Presiden, besok bisa dipakai untuk kepentingan politik tertentu," katanya.

Konteks geopolitik juga perlu diperhitungkan. Indonesia sedang dalam fase konsolidasi pasca transisi kekuasaan. Gesekan sekecil apa pun di tubuh aparat keamanan bisa dengan mudah dibaca oleh pihak luar sebagai keretakan internal. Ini berbahaya.

Amir menekankan, ucapan elite keamanan bukanlah omongan biasa. Itu adalah sinyal resmi negara yang didengar oleh banyak pihak: publik, aparat di lapangan, elite politik, bahkan intelijen asing. Jika dibiarkan, diksi konfrontatif bisa memicu polarisasi, menguatkan stigma Polri sebagai alat kekuasaan, dan pada akhirnya menggerus kepercayaan publik.

pungkas Amir.

Jadi, jika kemarahan Presiden itu nyata, langkah tegas justru mungkin diperlukan. Tujuannya jelas: memastikan Polri tetap profesional, netral, dan menjadi pengayom bagi semua rakyat. Bukan sekadar simbol dari konflik kekuasaan yang tak berujung.


Halaman:

Komentar