Jika Prabowo Benar-Benar Murka, Nasib Kapolri Listyo Sigit Bisa Dipertaruhkan
Pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang meminta jajarannya "mempertahankan Polri di bawah Presiden sampai titik darah penghabisan" tiba-tiba saja menyulut perdebatan panas. Bukan cuma di kalangan elite, tapi juga di ruang publik. Banyak yang menangkap aroma konflik dari pernyataan itu, sebuah bahasa yang dianggap berisiko memicu kegaduhan politik dan mengganggu stabilitas keamanan.
Menurut pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah, situasi ini bisa berujung serius. Apalagi jika kabar kemarahan Presiden Prabowo Subianto itu benar adanya.
kata Amir kepada wartawan, Jumat lalu.
Bagi Amir, frasa "sampai titik darah penghabisan" itu bukan sekadar pilihan kata yang kurang tepat. Itu adalah sinyal psikologis yang berbahaya, apalagi kalau keluar dari pimpinan tertinggi institusi bersenjata non-militer. Dalam analisisnya, bahasa semacam ini bisa memicu tiga dampak buruk: menciptakan persepsi konflik vertikal antar-institusi, mengirimkan sinyal loyalitas yang emosional dan bukan konstitusional, serta membuka ruang tafsir untuk mobilisasi kekuatan yang berbahaya dalam demokrasi.
tegasnya.
Di sisi lain, Amir melihat pernyataan Kapolri ini sebagai sebuah kegagalan komunikasi tingkat tinggi. Seharusnya, pesan yang disampaikan lebih sederhana dan konstitusional. Misalnya, bahwa Polri patuh pada konstitusi dan siap menjalankan keputusan politik melalui mekanisme hukum yang berlaku. Bukan malah menggunakan diksi yang terkesan emosional dan konfrontatif.
"Kalau kepala institusi keamanan sudah bicara dengan bahasa konflik, yang terganggu bukan cuma citra Polri, tapi juga rasa aman publik," ujar Amir.
Artikel Terkait
Di Tengah Banjir, Tardi Tetap Setia dengan Joran
Kobra Numpang Paket Karpet, Remaja Sukoharjo Terkapar di ICU
Bali Perketat Pengawasan Penumpang India Usai KLB Virus Nipah Dikeluarkan
Bocah di Cisarua: Berdiri Menunggu Teman yang Tertimbun Longsor