Turki sendiri punya cara pandang yang menarik. Bagi Ankara, BoP bukan alat untuk menyingkirkan HAMAS. Mereka memandangnya sebagai arena diplomasi, sebuah ruang yang bisa dimanfaatkan untuk memperjuangkan kepentingan Gaza. Dan tampaknya, HAMAS paham betul dengan pendekatan ini.
Di sisi lain, sikap Turki terhadap undangan bergabung dengan BoP juga cukup gamblang. Mereka menerimanya, tapi dengan pemahaman tertentu. Bagi mereka, BoP adalah bagian dari upaya kolektif dunia untuk menstabilkan Gaza di bawah mandat internasional. Intinya, Turki masuk bukan untuk melegitimasi pendudukan, melainkan mengisi kekosongan agar Gaza tidak dikelola sepihak oleh satu pihak saja.
Kalau kita bandingkan, reaksi di tanah air kita agak berbeda. Banyak yang melihat BoP dengan kacamata hitam-putih. Dukung atau tolak, tanpa nuansa.
Sementara itu, HAMAS lewat jalur Turki justru membaca peta ini sebagai ruang kontestasi politik. Sesuatu yang harus dihadapi, bukan dihindari. Perbedaan persepsi ini menarik, bukan?
Ini baru cerita dari sisi Turki. Masih ada lagi episode lain, yaitu peran Qatar yang selama ini menjadi semacam "rumah kedua" bagi gerakan perlawanan Palestina. Tapi, itu cerita untuk lain waktu.
(Kang Irvan Noviandana)
Artikel Terkait
Teman Seangkatan Jokowi di UGM Buka Suara: Ijazahnya Sudah Jelas Asli
Sheet Pile Retak, Warga Jembatan Gantung Terendam dan Frustrasi Menunggu Perbaikan
Dedi Mulyadi Tersentak, Tukang Es Viral Bohong Soal Nasibnya
Mengapa Rusdi Mappasessu Tinggalkan Kursi DPR untuk PSI yang Nihil Kursi?