Pernah dengar bahwa tumbuh kembang anak itu dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan pola asuh orang tua? Biasanya, pembicaraan soal ini selalu menekankan betapa banyak waktu anak dihabiskan di luar rumah. Bermain, bergaul, bersosialisasi. Baru setelah itu, peran keluarga di rumah menyusul.
Lalu, bagaimana kalau proses tumbuh kembang itu tak berjalan mulus? Di sinilah lingkungan tempat anak tinggal sering jadi penentu. Kita lihat saja berita-berita belakangan, banyak sekali kasus anak terjerumus pergaulan bebas. Dalam tekanan tertentu, mereka bisa terdorong melakukan hal-hal berisiko. Mabuk, judi, tawuran, bahkan kehamilan di luar nikah. Itu semua bisa jadi bentuk pelarian, atau sekadar upaya mencari penerimaan.
Tapi, fokus kita sebenarnya bukan cuma pada perilaku itu sendiri. Yang lebih dalam, dan sering luput dari perhatian, adalah luka batin serta ingatan emosional yang terbentuk sejak kecil hingga remaja. Ada satu pertanyaan kunci yang kerap terlupakan:
Bayangkan seorang anak, atau remaja, yang terus-menerus merasakan penolakan. Kehadirannya diabaikan, omongannya tak didengar, pendapatnya dianggap tak berguna. Lambat laun, mereka akan beradaptasi dengan cara yang nggak sehat. Mereka berusaha mati-matian menyenangkan teman-temannya, ikut nimbrung dalam obrolan tanpa benar-benar terlibat, sementara perasaan dan pendapat pribadi mereka tekan sendiri.
Artikel Terkait
China Akhirnya Buka Keran untuk Chip AI Nvidia, Tarif 25% Jadi Harga Kompromi
Toren Air Gratis untuk Warga Jakarta yang Kesulitan Air Bersih
Lemkapi Bongkar Upaya Adu Domba Kapolri dan Presiden Prabowo
Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Picu Ancaman Posisi Kapolri