Dari pengalaman pahit itu, anak belajar satu pelajaran berbahaya: diam itu lebih aman daripada jujur.
Kalau kondisi ini berlangsung lama, bisa terbentuk pola kepribadian yang menghindar. Mereka jadi terbiasa menarik diri, merasa diri nggak layak diterima, dan selalu takut ditolak. Ironisnya, meski lingkungan itu sama sekali nggak memberi rasa aman, mereka justru betah bertahan. Kenapa? Ya, karena itulah satu-satunya pola hubungan yang mereka kenal. Rasa “diterima” yang semu itu terasa familiar, sehingga tanpa disadari mereka tetap bertahan di dalamnya.
Pola seperti ini, saat dibawa sampai dewasa, jadi hambatan yang serius. Mereka sulit mengungkapkan pendapat, perasaan, atau kebutuhan emosionalnya. Malah, ketika ada orang yang bersikap baik, alarm kewaspadaan dalam kepala mereka justru berbunyi. “Ada apa sih? Kok baik banget? Jangan-jangan ada maunya?” Otak yang sudah terlatih dengan penolakan dan kepalsuan akan langsung menyuruh mereka untuk menjauh.
Jadi, pada akhirnya, luka batin ini bukan soal kelemahan seseorang. Ini lebih tentang sejarah panjang: mereka tak pernah benar-benar merasakan penerimaan.
Artikel Terkait
China Akhirnya Buka Keran untuk Chip AI Nvidia, Tarif 25% Jadi Harga Kompromi
Toren Air Gratis untuk Warga Jakarta yang Kesulitan Air Bersih
Lemkapi Bongkar Upaya Adu Domba Kapolri dan Presiden Prabowo
Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Picu Ancaman Posisi Kapolri