Sekolah dan Sejarah yang Kehilangan Suara: Saat Pendidikan Lupa untuk Menggugah

- Jumat, 30 Januari 2026 | 05:06 WIB
Sekolah dan Sejarah yang Kehilangan Suara: Saat Pendidikan Lupa untuk Menggugah

Pendidikan yang tak mengasah daya kritis hanya akan melahirkan generasi yang patuh, bukan generasi yang sadar. Mereka mudah diarahkan, gampang terpolarisasi oleh isu, dan cenderung percaya begitu saja tanpa banyak bertanya.

Di sinilah letak bahayanya. Sistem pendidikan bisa saja berhasil mencetak lulusan dengan nilai bagus, tapi gagal total dalam membentuk warga negara yang berpikir mandiri.

Nah, sejarah seharusnya bisa jadi senjata melawan kondisi itu. Tentu bukan dengan indoktrinasi, melainkan lewat dialog yang sehat. Bukan dengan memaksakan kebenaran tunggal, tapi dengan mendorong keberanian untuk mempertanyakan.

Untuk Apa, Sih, Sebenarnya?

Pendidikan harus kembali ke pertanyaan mendasar: untuk siapa dan untuk apa semua ini? Siswa bukan kertas kosong yang bisa diisi sembarangan. Guru juga bukan sekadar mesin pengejar kurikulum.

Kelas harus dihidupkan kembali sebagai ruang berpikir, bukan sekadar ruang duduk. Sejarah perlu dikembalikan fungsinya sebagai cermin untuk masa kini, bukan sekadar museum usang. Pendidikan harus berani menciptakan ketidaknyamanan karena dari situlah kesadaran kritis biasanya tumbuh.

Ancaman Keterpisahan

Kalau pendidikan tidak berubah, siswa akan semakin menjauh. Kalau mereka terlihat acuh, mungkin bukan karena tak peduli. Bisa jadi, itu karena pendidikan di sekeliling mereka belum cukup jujur membicarakan realitas hidup yang sebenarnya.

Pendidikan dan sejarah baru akan bermakna kalau berani hadir sebagai alat untuk memahami zaman, bukan sekadar untuk memenuhi tuntutan sistem yang kaku. Kalau tidak, ya begini-begini saja. Sekolah tetap berjalan, rapor tetap dibagikan, nilai-nilai tetap keluar.

Tapi maknanya? Pelan-pelan akan menghilang.

Dan bila makna sudah hilang, pendidikan tinggal namanya saja.


Halaman:

Komentar