Validasi dari Luar: Pola Pikir Kolonial yang Bersisa?
Dari kacamata kajian media postkolonial, pola ini mirip dengan jejak lama. Realitas lokal baru dianggap sah dan penting setelah divalidasi oleh lembaga global. Ironisnya, media lokal sendiri kadang lebih percaya pada narasi asing ketimbang melakukan verifikasi langsung ke sumber di sekitarnya.
Ketergantungan semacam ini berbahaya. Ia menggerus peran utama media lokal sebagai penjaga konteks dan penafsir realitas di tanahnya sendiri. Bukannya jadi institusi yang kritis dan berdaulat, media malah berfungsi sebagai corong perpanjangan narasi pihak luar.
Bayangkan, ketika sebuah media membutuhkan pengakuan dari luar untuk mempercayai realitas di negerinya sendiri. Yang terancam bukan cuma etika, tapi nyawa dari kemandirian jurnalistik itu.
Ini Investigasi atau Cuma Rangkuman?
Jurnalisme investigasi punya syarat ketat: verifikasi berlapis, konfirmasi ke pemilik data, transparansi. Mengais konten personal tanpa izin, lalu merangkainya jadi laporan investigasi, berisiko besar. Risiko mereduksi proses mulia itu menjadi sekadar aktivitas merangkai ulang narasi yang sudah ada.
Investigasi sejati dimulai dari verifikasi dan persetujuan. Bukan dari asumsi gegabah bahwa semua data di internet adalah 'milik publik'.
Tanpa kehati-hatian ini, label 'investigasi' kehilangan rohnya. Tinggal jadi gaya bahasa saja.
Dampaknya untuk Jangka Panjang
Praktik yang mengaburkan batas ini, kalau dibiarkan, punya konsekuensi. Kepercayaan publik bisa anjlok. Standar etika di redaksi melemah. Kerentanan media meningkat, baik di ranah hukum maupun moral.
Penutup
Pada intinya, kolaborasi dengan media asing bukanlah sesuatu yang buruk. Banyak juga contoh positifnya, yang membuka ruang tukar pengetahuan dan solidaritas. Tapi, kolaborasi hanya akan bermakna jika dijalankan dengan kesadaran etis dan kemandirian berpikir yang terjaga.
Media lokal punya peran unik yang tak tergantikan: memahami konteks lokal, menghormati sumbernya, dan menjaga keseimbangan yang sehat antara kepentingan publik dan hak individu.
Kalau prinsip-prinsip dasar ini dikorbankan demi kecepatan atau gengsi global, yang dipertaruhkan sangat besar. Bukan cuma reputasi, tapi kepercayaan publik yang menjadi fondasi segala kerja jurnalistik.
Ujung-ujungnya, kekuatan jurnalisme tidak diukur dari luasnya jaringan. Tapi dari teguhnya ia memegang etika. Media lokal tak perlu merasa kecil di hadapan raksasa global. Yang kita butuhkan cuma satu: keberanian untuk tetap kritis. Bahkan terhadap kolaborasi yang tampak progresif, namun diam-diam mengikis batas-batas etika yang kita pegang.
Artikel Terkait
Gempa Dangkal Guncang Bandung dan Sumedang Pagi Ini
Andi Azwan Klaim Rekaman Rahasia Ungkap Eggi Sudjana Minta Maaf ke Jokowi
Ketika Anak Tak Merasa Diterima: Luka Batin yang Tumbuh dalam Diam
Uni Eropa Resmi Cap IRGC Iran sebagai Organisasi Teroris