MASJID INKLUSIF
Mengembalikan Masjid Menjadi Rumah Besar Umat Islam
Bicara soal masjid yang hidup, kita tak perlu jauh-jauh mencari contoh dongeng. Lihat saja Masjid Agung Al-Azhar di Kebayoran Baru. Keberhasilannya nyata. Rahasianya sederhana: sejak awal, masjid itu dibiarkan hidup. Ia jadi tempat shalat, tentu. Tapi juga ruang belajar, arena debat, dan tanah subur untuk bertumbuh. Buya Hamka pernah menyuarakan hal ini dengan jernih. Dalam ingatan kolektif umat Islam Indonesia, pesannya jelas: masjid adalah rumah besar umat. Bukan ruang steril yang dikosongkan dari denyut kehidupan.
Semangat itu belum mati. Hari ini, kita masih bisa menemukan jejaknya. Mungkin dalam skala lebih kecil, tapi terasa sangat nyata.
Ambil contoh Masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Atau Masjid Al Falah di Sragen. Juga Masjid Sejuta Pemuda di Bantul. Mereka hidup justru karena dibuka lebar-lebar, bukan dijaga berlapis dengan prasangka. Anak muda berdatangan. Diskusi mengalir. Kepedulian sosial menemukan salurannya. Bahkan, masjid-masjid ini kerap menjadi pertolongan pertama bagi musafir yang kehabisan bekal, tanpa perlu menunggu persetujuan ideologis yang berbelit.
Kalau kita mundur ke zaman Nabi, fungsinya jauh lebih kompleks. Masjid adalah jantung kehidupan umat. Pusat segala hal. Di sanalah shalat ditegakkan, ilmu disebarkan, persoalan umat dibedah, dan keputusan penting dirumuskan. Karena itu pula, masjid punya kehormatan khusus. Fungsinya tak boleh dipersempit hanya karena selera penguasa, atau keinginan segelintir pengurus DKM, atau ketakutan-ketakutan sesaat lainnya.
Namun begitu, masalah mulai muncul di era modern. Masjid khususnya masjid kampus pelan-pelan dicurigai. Ia tak lagi dilihat sebagai taman intelektual Muslim, melainkan ruang yang harus diawasi ketat. Pelarangan tidak dilakukan secara terang-terangan. Caranya lebih halus: masjid dibatasi. Bukan ditutup, tapi dikunci dari dalam.
Puncaknya cukup gamblang. Said Aqil Siraj, dalam sebuah pidato yang cukup dikenal publik, pernah berujar:
Artikel Terkait
Rapat Darurat PBNU Pulihkan Posisi Gus Yahya sebagai Ketua Umum
Kaban Soroti Eksploitasi Hutan dan Penegakan Hukum yang Lembek
Babinsa Kemayoran Dihukum Berat Usai Tuding Es Gabus Berbahan Spons
Bendung Katulampa Siaga 3, Warga Diimbau Waspada Banjir