tegasnya.
Menurut Fidan, pembahasan program nuklir Iran harus kembali jadi prioritas utama. Dan Turki, dengan posisinya, mendukung penuh solusi damai. Mereka siap membantu kapan saja jika dibutuhkan.
Bersiap di Garis Perbatasan
Namun begitu, diplomasi saja tak cukup. Pemerintah Turki ternyata juga bersikap realistis. Mereka sedang menyiapkan skenario cadangan, atau contingency plan, jikalau konflik AS-Iran benar-benar meledak menjadi eskalasi militer.
Seorang pejabat senior Turki mengungkapkan pada AFP bahwa Ankara sedang mengevaluasi pengamanan di sepanjang perbatasannya dengan Iran. Garis perbatasan sepanjang 500 kilometer itu sebagian besar memang sudah dipagari tembok pengaman. Tapi, kata mereka, itu belum sepenuhnya memadai.
Beberapa opsi sedang dipertimbangkan. Mulai dari penambahan pasukan hingga memperluas sistem pengawasan berbasis teknologi canggih. Untungnya, sejauh ini belum ada tanda-tanda gelombang pengungsi besar-besaran dari Iran yang melintas. Tapi kewaspadaan tetap ditingkatkan. Pengawasan ketat dengan drone dan sistem pemantauan lainnya terus berjalan tanpa henti, 24 jam sehari.
Jadi, sambil menjajaki jalan damai lewat diplomasi, Turki juga bersiap untuk kemungkinan terburuk. Mereka tak mau lengah.
Artikel Terkait
Prabowo Pacu Proyek 141 Ribu Rumah Subsidi, Cikarang Jadi Lokomotif
Makan Bergizi Lebih Mendesak, Bappenas: Kasih Kail, Bisa Keburu Mati Duluan
Kebakaran Cikini Padam, Listrik Warga Terganggu
Putri Stalin yang Membelot: Kisah Pelarian Svetlana ke Barat