tegasnya.
Menurut Fidan, pembahasan program nuklir Iran harus kembali jadi prioritas utama. Dan Turki, dengan posisinya, mendukung penuh solusi damai. Mereka siap membantu kapan saja jika dibutuhkan.
Bersiap di Garis Perbatasan
Namun begitu, diplomasi saja tak cukup. Pemerintah Turki ternyata juga bersikap realistis. Mereka sedang menyiapkan skenario cadangan, atau contingency plan, jikalau konflik AS-Iran benar-benar meledak menjadi eskalasi militer.
Seorang pejabat senior Turki mengungkapkan pada AFP bahwa Ankara sedang mengevaluasi pengamanan di sepanjang perbatasannya dengan Iran. Garis perbatasan sepanjang 500 kilometer itu sebagian besar memang sudah dipagari tembok pengaman. Tapi, kata mereka, itu belum sepenuhnya memadai.
Beberapa opsi sedang dipertimbangkan. Mulai dari penambahan pasukan hingga memperluas sistem pengawasan berbasis teknologi canggih. Untungnya, sejauh ini belum ada tanda-tanda gelombang pengungsi besar-besaran dari Iran yang melintas. Tapi kewaspadaan tetap ditingkatkan. Pengawasan ketat dengan drone dan sistem pemantauan lainnya terus berjalan tanpa henti, 24 jam sehari.
Jadi, sambil menjajaki jalan damai lewat diplomasi, Turki juga bersiap untuk kemungkinan terburuk. Mereka tak mau lengah.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral