Dinamika konflik di Suriah kembali memfokuskan perhatian pada komunitas Kurdi. Kali ini, pemicunya adalah langkah pemerintah Damaskus yang mulai memperluas kendali ke wilayah timur laut kawasan yang bertahun-tahun jadi kantong kekuasaan Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Perubahan peta kekuasaan ini, mau tak mau, menempatkan warga Kurdi pada posisi yang sangat rapuh. Otonomi de facto yang mereka bangun dengan susah payah di tengah kobaran perang saudara, kini terasa goyah.
Siapa Sebenarnya Etnis Kurdi?
Mereka sering disebut sebagai kelompok etnis terbesar di dunia yang tak punya negara. Populasinya tersebar, terpencar di empat negara: Turki, Irak, Iran, dan tentu saja, Suriah. Di Suriah sendiri, mereka adalah minoritas terbesar. Angkanya sekitar 5 sampai 10 persen dari total penduduk, dengan konsentrasi di wilayah seperti Afrin, Kobani, dan Jazira. Bahasa Kurdi, khususnya dialek Kurmanji, jadi bahasa ibu, dan mayoritas menganut Islam Sunni.
Namun begitu, sejarah modern Suriah bagi mereka adalah cerita panjang tentang marginalisasi. Hak-hak dasar dibatasi, penggunaan bahasa dikekang, bahkan status kewarganegaraan bisa dicabut begitu saja. Perang saudara yang meledak kemudian justru mengubah segalanya. Saat otoritas negara melemah di utara, komunitas Kurdi mengambil inisiatif. Mereka membentuk struktur pemerintahan dan pertahanan sendiri. Dari sanalah SDF lahir sebuah koalisi milisi yang dipimpin Kurdi dan kelak menjadi ujung tombak Amerika Serikat dalam menghadapi ISIS.
Begitu laporan Reuters mencatat, merujuk pada era pertengahan 2010-an. Dukungan AS itu memang membawa konsekuensi. Wilayah kekuasaan Kurdi meluas signifikan di timur laut, dan mereka pun mengelola pemerintahan lokal secara mandiri. Tapi kedekatan dengan Washington ibarat pedang bermata dua. Di mata Damaskus dan Ankara, SDF dianggap ancaman serius bagi kedaulatan. Dan ketika dukungan internasional mulai goyah, posisi Kurdi pun kembali terdesak.
Artikel Terkait
Viral Es Spons, Pedagang Ini Ungkap Pengeroyokan Preman Sebelum Ditegur Aparat
Kaesang Sambut Rusdi Masse ke PSI, Anaknya yang 19 Tahun Langsung Pimpin Sulsel
Makan Gratis atau Otak Kosong: Ketika Dana Pendidikan Jadi Taruhan
Wamenkes: Virus Nipah Mematikan, Tapi Jangan Panik