Ancaman dari Washington
Lalu, dari mana datangnya ancaman militer yang membuat negara-negara Teluk ini bersikap hati-hati? Sumber utamanya adalah Presiden AS, Donald Trump.
Semula, ancamannya terkait eksekusi massal terhadap demonstran di Iran. Ancaman itu mereda setelah Trump menyatakan tidak ada lagi eksekusi. Tapi beberapa hari kemudian, situasi berbalik. Armada perang AS justru dikerahkan ke Timur Tengah.
Pada Rabu, 27 Januari, Trump kembali melontarkan peringatan keras lewat media sosialnya. Dia mendesak Iran segera kembali ke meja perundingan nuklir.
Operasi Midnight Hammer yang dia sebut itu merujuk pada serangan AS di Juni 2025 terhadap sejumlah situs yang diduga terkait program nuklir Iran. Serangan itu, bagi Trump, adalah bukti keseriusannya.
Sementara itu, dari Teheran, jawabannya singkat dan keras. Iran menyatakan siap untuk perang total jika negaranya diserang. Sebuah ancaman balasan yang membuat situasi semakin runyam.
Jadi, di tengah saling ancam antara Washington dan Teheran, langkah diplomatik antara Riyadh dan Tehran ini setidaknya memberi secercah harapan. Atau, paling tidak, mencegah kawasan ini meledak sepenuhnya.
Artikel Terkait
Motor Pemberian Kapolres Malah Dipakai Ngojek, Gubernur Jawa Barat Syok Dengar Pengakuan Suderajat
Feri Amsari Soroti Pola Rusak Tata Negara yang Terus Berlanjut
PPATK Catat Penurunan Signifikan Perputaran Dana Judi Online pada 2025
Persada 212 Desak Indonesia Keluar dari Board of Peace Trump, Sebut Wadah Pengkhianatan bagi Palestina