Keputusan itu akhirnya keluar. Pemerintah Indonesia memastikan bakal ikut menyetor iuran untuk Dewan Perdamaian atau Board of Peace, sebuah badan yang digagas Presiden AS Donald Trump. Organisasi ini, katanya, dibentuk buat menangani konflik global. Fokusnya termasuk upaya perdamaian dan rekonstruksi di Gaza, Palestina.
Nilai kontribusinya? Gak main-main: satu miliar dolar AS, atau kalau dirupiahkan kira-kira Rp 17 triliun. Menlu Sugiono bilang, keputusan finalnya datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
“Presiden memutuskan untuk ikut berpartisipasi,” ujar Sugiono.
Pernyataan itu dia sampaikan usai rapat tertutup dengan Komisi I DPR, Selasa lalu di kompleks parlemen.
Namun begitu, Sugiono berusaha meluruskan. Iuran sebesar itu, katanya, bukanlah semacam biaya keanggotaan wajib. Ia menyebutnya sebagai kontribusi sukarela. Tujuannya mendukung penyelesaian konflik dan pembangunan kembali Palestina.
“Ini bukan membership fee,” tegasnya. “Coba lihat kronologinya. Pembentukan Board of Peace ini kan upaya untuk menyelesaikan situasi di Gaza, khususnya, dan Palestina secara umum, termasuk rekonstruksi. Nah, terus rekonstruksi itu siapa yang bayar? Dananya dari mana? Ya seperti itu logikanya.”
Dia juga menekankan, negara mana pun yang diundang punya hak jadi anggota selama tiga tahun, bayar atau tidak.
“Enggak, enggak wajib. Semua negara yang diundang entitled jadi anggota untuk tiga tahun. Itu bunyi charter-nya. Tapi kalau ikut berpartisipasi dengan satu miliar dolar, artinya dia dapat status permanen,” jelas Sugiono.
Gelombang Kritik
Di sisi lain, respons dari publik terutama di jagat media sosial justru banyak yang negatif. Bergabungnya Indonesia dengan proyek Trump ini, apalagi dengan nilai kontribusi yang fantastis, menuai kecurigaan dan sindiran.
Akun X @txtdaritaxpayer, misalnya, menyoroti hal yang tampak sepele: logo organisasi.
Judul : Board of Peace
Proyek : New Gaza
“Meanwhile, logonya cuma daratan Amerika (Benua Amerika)😂,” tulisnya. “Style logonya kayak template canva gratisan pula. Iuran 17 triliun ga bisa bikin logo kok yaa ampun🥴.”
Kritik lain datang dari @er3ndar yang melihat ini sebagai skema bisnis Trump.
“Trump selesai jadi presiden, langsung megang duit ratusan triliun dari proyek Gaza ini. Bodo amat setelah dia lengser yang jadi presiden dari demokrat, dia udah untung dari sini,” timpalnya.
Sentimen serupa diungkap @RengKa61039. “Dikibuli luar dalam, bahkan presiden sdh berkomitmen bayar iuran. Iuran untuk meratkan gaza, dibangun properti dan dijual. Biaya perang yg dikeluarkan AS dan Israel sudah balik, malah dapat untung di jangka panjang,” tulisnya.
Gambar-gambar tangkapan layar percakapan itu pun membanjiri linimasa, memperlihatkan betapa skeptisnya sebagian warganet. Mereka meragukan niat di balik pembentukan dewan ini, dan mempertanyakan kemana uang rakyat Indonesia akan mengalir.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu