Klaim bahwa uang itu akan dipakai membangun Gaza pun dipertanyakan. Soalnya, BoP Trump secara tertulis menyatakan diri sebagai lembaga untuk perdamaian global secara umum. Gaza sendiri cuma ditempatkan di bawah struktur turunan, bernama Dewan Eksekutif Gaza (DEG).
Dan siapa yang memegang kendali di DEG? Figur sentralnya adalah Jared Kushner, menantu Trump yang dikenal sebagai Yahudi Zionis. Kushner bahkan sudah mempresentasikan master plan untuk Gaza. Gambarannya? Gedung pencakar langit mewah, kawasan resort, proyek properti besar-besaran.
Investornya disebut berasal dari kalangan pengusaha real estate kaya. Pengawas pembangunannya dipercayakan kepada Yakir Gabay, miliarder Israel yang juga berkecimpung di bisnis properti.
Nah, di sinilah pertanyaan besarnya. Kalau proyek mewah itu jadi, siapa yang bakal menikmati?
“Apakah orang Gaza akan diberi gratis apartemen mewah? Atau disuruh beli? Kalau beli, uangnya dari mana?” tanya Dina.
Dia pesimistis. Kemungkinan besar warga Gaza bukanlah calon pemiliknya. Mereka justru berpotensi hanya jadi buruh bangunan, cleaning service, atau pekerja rendahan. Sementara itu, tempat tinggal untuk warga Gaza konon sudah disiapkan dalam bentuk kamp permukiman di sudut Rafah. Itu pun diberi label ‘kota kemanusiaan’.
Intinya, Dina menegaskan perbedaan yang sangat mendasar antara Board of Peace versi Trump dan BoP yang dimandatkan PBB. Perbedaan inilah yang, menurutnya, harus dijelaskan secara jujur sebelum Indonesia menggelontorkan dana fantastis.
“Kalau ini diklaim untuk Gaza, faktanya Gaza bahkan tidak disebut dalam Piagam BoP Trump,” pungkas Dina.
Skemanya, dari bagan perbedaan yang ia tunjukkan, semakin terlihat lebih menguntungkan kepentingan politik dan bisnis segelintir pihak. Bukan untuk rakyat Palestina yang seharusnya jadi prioritas.
Artikel Terkait
DPR Minta Kasus Hogi Miyana Dihentikan, Penegak Hukum Akui Kekeliruan
MBS dan Presiden Iran Bertelepon, Tegaskan Saudi Tolak Jadi Pangkalan Serangan AS
Trump Kirim Ultimatum, Iran Siaga Penuh: Ketegangan Nuklir Memanas di Teluk Persia
Saudi Tolak Jadi Pangkalan Serangan AS ke Iran, MBS dan Pezeshkian Perkuat Diplomasi