Dari pantauannya, masalahnya sebenarnya sederhana tapi menjengkelkan: soal ketidaktertiban dan ego para pemilik kapal. Pramono menggambarkan, seringkali kapal yang di depan ogah beranjak, sementara yang di belakang juga enggan mengalah. Situasi buntu yang akhirnya berlarut-larut.
“Jadi memang persoalannya sebenarnya lebih pada orang bawa perahu yang di depan enggak mau keluar, yang belakang enggak mau anu,”
ujarnya, menggambarkan kondisi di lapangan.
Video viral itu sendiri, kata Pramono, sudah ia tonton. Ia berjanji akan mendorong penyelesaian segera. “Tapi saya akan minta untuk ditangani,” pungkasnya.
Dua Hari Cuma untuk Keluar Pelabuhan
Kekacauan di Muara Angke bukan isapan jempol belaka. Dalam video yang beredar, pelapor mengeluhkan betapa padat dan ruwetnya antrean di sana. Efeknya langsung terasa: kapal yang mau beraktivitas terhambat total.
Yang biasanya cuma butuh sepuluh menit untuk keluar, kini bisa makan waktu dua sampai tiga hari! Itu pun harus dibantu dengan susah payah. Kondisi mengkhawatirkan ini disebut-sebut sudah berlangsung lebih dari sebulan, menimbulkan rasa was-was terutama jika ada keadaan darurat.
Artikel Terkait
KPK Buka Suara: Gaji Tak Merata hingga Persepsi Korupsi sebagai Hak Istimewa
KPK Naikkan Batas Hadiah yang Tak Perlu Dilaporkan, Kini Rp 1,5 Juta
Siklus Bencana di Indonesia: Antara Respons Darurat dan Mitigasi yang Terlupakan
Lima Pemburu Diamankan, Rekaman Kamera Trap Ungkap Dugaan Cedera Macan Tutul