Ketika Hawking Menyerah pada Mimpi: Teori Segalanya yang Tak Pernah Terwujud

- Rabu, 28 Januari 2026 | 11:18 WIB
Ketika Hawking Menyerah pada Mimpi: Teori Segalanya yang Tak Pernah Terwujud

Dengan suara sintesis dari komputernya, dia berkata dengan tenang:

"Dulu saya termasuk orang yang percaya kita akan menemukan teori final. Sekarang saya sudah berubah pikiran. Justru saya senang kalau pencarian kita takkan pernah berakhir. Kita akan selalu punya tantangan baru untuk ditemukan."

Ini pengakuan yang luar biasa. Seorang legenda yang hidupnya diabdikan untuk mencari hukum dasar alam, kini meragukan apakah hukum sempurna itu ada.

Lalu dia jelaskan kaitannya dengan Gödel. "Teorema itu menetapkan bahwa matematika tidak bisa 'diputuskan' sepenuhnya. Selalu ada pertanyaan yang tak terjawab. Meski fisika mungkin berbeda, saya rasa kita akan temukan bahwa tidak ada teori yang benar-benar lengkap untuk menjelaskan alam semesta."

Mengapa Fisika Mungkin Takkan Pernah 'Selesai'

Hawking merinci beberapa alasan. Pertama, jika hukum fisika ditulis dalam matematika, dan matematika itu sendiri tak lengkap, maka deskripsi kita tentang alam semesta juga pasti punya celah. Akan selalu ada pertanyaan yang menggantung.

Kedua, soal self-reference. Sebuah Theory of Everything harus bisa menjelaskan segalanya, termasuk si fisikawan yang sedang mempelajari teori itu. Ini menciptakan paradoks: sistem yang mencoba memahami dirinya sendiri secara utuh. Mirip dengan jebakan logika yang diungkap Gödel.

Lalu, mungkin ada hierarki teori tanpa ujung. Setiap teori punya batasannya, dan untuk melampaui batas itu kita butuh teori yang lebih dalam, yang juga punya batas, dan begitu terus.

Terakhir, masalah komputasi. Katakanlah kita sudah punya hukum dasarnya yang sederhana. Memprediksi perilaku sistem yang rumit seperti otak manusia atau iklim Bumi bisa saja secara matematis mustahil dilakukan. Jadi meski punya teori segalanya, kita tetap takkan bisa menjawab banyak hal.

Dari Mimpi Final ke Petualangan Abadi

Perubahan ini lebih dari sekadar perdebatan teknis. Ini pergeseran filosofis yang dalam. Dari "finalisme optimis" di masa mudanya, Hawking beralih ke "pencarian tanpa akhir" di masa tuanya. Bagi dia, ini bukan kekalahan, tapi justru pembebasan.

Dalam bukunya tahun 2010, The Grand Design, dia bahkan melangkah lebih jauh dengan konsep "realisme bergantung-model". Intinya, tak ada model tunggal yang mewakili realitas sejati. Yang ada hanyalah model-model yang berguna, masing-masing cocok untuk situasi tertentu. Mencari "kebenaran final" mungkin sia-sia; yang kita butuhkan adalah "model yang bekerja".

Tanggapan dari Rekan-Rekannya

Tentu saja, tidak semua fisikawan sepakat. Freeman Dyson, yang sudah lama skeptis, menyambut baik perubahan hati Hawking. "Saya senang dia akhirnya melihat apa yang saya lihat," kata Dyson. "Keindahan alam semesta justru ada dalam misterinya yang tak pernah kering."

Tapi Roger Penrose, kolaborator lamanya, punya pendapat lain. Dia berargumen bahwa fisika dibatasi oleh pengamatan, bukan hanya logika murni. "Kita tidak perlu membuktikan semua kebenaran matematis dari sebuah teori," ujarnya. "Kita hanya perlu teori yang cocok dengan apa yang kita lihat di alam."

Sementara para ahli teori string seperti Edward Witten belum menyerah. Mereka mengakui tantangan dari Gödel, tapi tetap yakin M-theory bisa menjadi kandidat Theory of Everything. "Gödel bilang tidak ada sistem formal yang lengkap," kata Witten. "Tapi itu tidak berarti hukum dasar alam tidak ada. Hanya saja, kita mungkin takkan pernah tahu semua konsekuensi dari hukum-hukum itu."

Pada akhirnya, perjalanan intelektual Hawking ini meninggalkan pelajaran yang dalam. Bukan tentang menyerah pada ilmu pengetahuan, tapi tentang merayakan sifatnya yang tak pernah usai. Seorang manusia yang tubuhnya terpenjara justru menemukan kebebasan dalam mengakui bahwa alam semesta mungkin terlalu kaya untuk pernah sepenuhnya terkurung dalam sebuah persamaan.


Halaman:

Komentar