EGGI PAYAH: MAIN PECAT, MAIN LAPOR
Oleh M Rizal Fadillah
Seharusnya Eggi Sudjana sadar. Blusukan ke Solo itu berisiko besar. Dan lihatlah sekarang, risikonya jadi kenyataan: kepercayaan buyar, dirinya dituduh macam-macam, bahkan sakit yang dideritanya pun dipertanyakan orang. Dalam situasi seperti ini, mestinya ia introspeksi. Bukan malah membela diri dan balik mengkriminalisasi lawan bicara.
Wajar saja kalau publik mempertanyakan keadilan restoratif dan keabsahan SP3 yang didapatnya. Aturan kan bisa ditafsirkan banyak cara.
Akibatnya? Bisa-bisa banyak orang kena laporan pencemaran nama baik, mengingat banyaknya predikat yang dilemparkan ke sana-sini. Ini juga gara-gara klarifikasi yang tak kunjung datang, atau kalau ada pun terasa tak memadai. Janji untuk klarifikasi di hari Jumat? Cuma jadi omong kosong di bandara, saat dia tergesa-gesa berangkat ke Malaysia. Sambil didorong kursi roda, Eggi justru mengecam Roy Suryo dan kawan-kawan yang masih getol membongkar soal ijazah Presiden Jokowi.
Lucunya, sebelum berangkat, dia sempat membuat kejutan dengan memecat beberapa rekan seperjuangan di TPUA Muslim. Sebut saja nama-nama seperti Kurnia, Azzam, Rizal, Ismar, dan Rustam. Ini aneh. Eggi, yang kontroversial karena menemui Jokowi untuk berdamai dan dapat SP3, kok malah memecat teman-temannya sendiri?
Menurut sejumlah saksi, kunjungannya ke Solo dilakukan diam-diam. Mungkin untuk penyelamatan diri, tanpa sepengetahuan atau kesepakatan bersama. Bisa jadi dia kecewa karena misi rahasianya itu bocor.
Nah, sepulang dari Malaysia, giliran aksi lain yang dimainkan. Eggi dan DHL melaporkan Roy Suryo serta Akhmad Khozinuddin ke Polda Metro Jaya. Tuduhannya, pencemaran nama baik dan fitnah. Konon sih ada lima nama yang mau dilaporkan, tapi cuma dua yang berhasil. Pelaporan ini bikin ricuh lagi, memantik gonjang-ganjing baru seputar Eggi, DHL, dan pengacaranya, Ellida.
Yang bikin runyam, Eggi dan DHL selalu mengklaim dekat dengan tokoh-tokoh yang dihormati. Otomatis, nama ulama dan tokoh besar itu ikut terseret dalam kegaduhan ini.
Jujur saja, main pecat dan main lapor bukanlah karakter seorang petarung sejati. Itu lebih mirip bentuk kegelisahan seseorang yang terdesak oleh kenyataan pahit. Dia pasti tak menyangka akan berada di posisi seperti ini.
Sebenarnya, kalau BES yakin dirinya dikriminalisasi, berjuang saja secara gigih. Advokat yang menangani kasus terkait kan tidak boleh sembarangan dilaporkan. Ada jalan hukum yang bisa ditempuh, seperti praperadilan atau eksepsi di pengadilan. Tidak akan langsung dipenjara kok, untuk apa takut?
Belum lagi kalau kita bicara soal perlindungan Allah. Keyakinan akan hal itu mestinya memberikan kekuatan yang lebih dahsyat. Bukankah ayat Quran yang dibaca dan ditulis itu untuk diaplikasikan, bukan cuma supaya disebut hafidz atau alim?
Sulit membedakan, sih, ini siasat atau bentuk menyerah. Jangan sensitif dulu kalau ada yang menilai ini kekalahan. Itu konsekuensi dari sebuah pilihan. Soal sowan ke Jokowi di Solo di tengah-tengah proses perjuangan? Itu jelas sebuah fitnah. Dengan alasan apapun.
TPUA jangan sampai jadi Tim Pecat atau Pelapor Ulama dan Aktivis. Kalau iya, berarti Eggi telah bertindak sewenang-wenang dan melenceng dari khittah perjuangan untuk umat. Harusnya dia berbeda dengan Jokowi yang dianggapnya curang, pendusta, korup, bahkan otoritarian seperti Fir'aun.
Mirip seperti Fir'aun yang mengklaim diri pembela agama sambil berancang-ancang membunuh Nabi Musa. Seperti dalam firman-Nya, "...inni akhoofu an yubaddila diinakum..." (QS Mu'min: 26).
Butuh waktu lama bagi Eggi Sudjana untuk memulihkan nama baiknya. Semoga dia juga lekas sembuh dan pulih dari sakitnya. Syafahullah. Aamiin.
") Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 28 Januari 2026
Artikel Terkait
Menteri PPPA Minta Maaf Atas Pernyataan soal Gerbong Khusus Perempuan Usai Kecelakaan Kereta di Bekasi
Kebakaran di Wajo Hanguskan Tiga Rumah dan Dua Motor, Kerugian Capai Miliaran Rupiah
Truk Dishub Takalar Kehilangan Mesin saat Terparkir di Terminal Induk, Pencurian Diduga Berlangsung Bertahap
Pemuda Pembegal Remaja di Makassar Babak Belur Dihajar Massa, Satu Pelaku Buron