Aturan Baru Thailand Larang Minum Alkohol di Waktu Tertentu, Denda Rp 5,1 Juta
Pemerintah Thailand resmi memberlakukan aturan baru yang memperketat konsumsi alkohol. Berdasarkan amandemen Undang-Undang Pengendalian Alkohol, konsumen yang minum alkohol di waktu dan tempat yang dilarang kini bisa dikenai denda hingga Rp 5,1 juta.
Denda dan Larangan Iklan Alkohol di Thailand
Aturan baru Thailand ini tidak hanya menjatuhkan denda tinggi bagi pelanggar, tetapi juga memperketat iklan dan promosi minuman beralkohol. Promosi alkohol kini hanya boleh menampilkan informasi faktual, tanpa melibatkan selebritas, influencer, atau tokoh publik untuk tujuan komersial.
Pelanggaran aturan ini dapat diganjar denda mulai 10,000 baht atau setara dengan Rp 5,1 juta. Yang menarik, aturan ini menegaskan bahwa tanggung jawab tidak hanya berada di pihak penjual, tetapi juga pada konsumen yang meminumnya.
Pengecualian dan Kritik Aturan Minum Alkohol Thailand
Meski ketat, aturan ini memberikan pengecualian untuk tempat-tempat tertentu seperti hotel berlisensi, tempat hiburan, kawasan wisata, dan bandara internasional. Namun, bagi industri restoran, aturan ini dinilai dapat membatasi pelanggan.
Chanon Koetcharoen, Presiden Asosiasi Restoran Thailand, menyatakan kekhawatirannya. Menurutnya, peraturan baru ini akan berdampak buruk pada restoran karena pelangganlah yang kini dibatasi oleh jam penjualan yang telah ditetapkan pemerintah.
Redenominasi Rupiah: Manfaat dan Tantangan untuk Mata Uang Indonesia
Di sisi lain, wacana redenominasi rupiah kembali mencuat. Kebijakan ini dinilai dapat membuat mata uang Indonesia lebih kompetitif di kancah global.
Apa Itu Redenominasi dan Manfaatnya?
Menurut Trioksa Siahaan, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), redenominasi akan menyederhanakan nominal rupiah. Sebagai contoh, USD 1 yang sebelumnya setara dengan Rp 16.000 akan menjadi Rp 16 setelah redenominasi.
Dengan penyederhanaan ini, transaksi keuangan menjadi lebih mudah dan risiko kesalahan perhitungan dapat diminimalisir. Hal ini pada akhirnya membuat rupiah lebih bersaing dengan mata uang global lainnya.
Tantangan dan Syarat Redenominasi Rupiah
Meski menjanjikan banyak manfaat, pelaksanaan redenominasi rupiah tidak lepas dari tantangan. Trioksa memperingatkan potensi spekulasi harga yang dapat memicu hiperinflasi jika tidak diantisipasi dengan baik.
Oleh karena itu, redenominasi sebaiknya dilakukan ketika inflasi rendah dan pertumbuhan ekonomi stabil. Kepercayaan terhadap rupiah sangat bergantung pada stabilitas ekonomi dan politik suatu negara.
Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina, menambahkan bahwa redenominasi berpotensi menimbulkan efek psikologis. Masyarakat mungkin merasa harga menjadi lebih murah, sehingga cenderung meningkatkan belanja. Namun, dampak kenaikan harga ini biasanya kecil dan bersifat sementara.
Selain itu, pemerintah perlu mempertimbangkan biaya implementasi yang tidak sedikit, termasuk biaya pencetakan uang baru dan program literasi untuk masyarakat.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp20.000, Sentuh Rp2,94 Juta per Gram
IHSG Menguat 0,44% di Awal Pekan, Didorong Sektor Bahan Baku dan Energi
Analis Proyeksikan IHSG Menguat Terbatas, Waspadai Potensi Koreksi
Analis Proyeksikan IHSG Lanjutkan Koreksi, Pantau Level Support 7.712