Sudah empat belas tahun lamanya, kompleks Islamic Centre di Desa Srimahi, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, berdiri dalam sunyi. Gedung milik Pemkab Bekasi itu lebih mirip kenangan yang terlupakan, terbengkalai dan tak terurus.
Kalau kamu datang ke lokasi, yang bakal langsung mencolok adalah kondisi salah satu dari tiga bangunan utamanya. Sungguh memprihatinkan. Atapnya bolong-bolong di sana-sini, gentengnya banyak yang raib entah ke mana. Dinding dan sekelilingnya pun tak kalah parah penuh kerusakan, jelas sekali tak ada yang merawat.
Gedung ini pertama kali dibangun di era kepemimpinan Bupati Sa’duddin, tepatnya tahun 2009. Tapi anehnya, begitu selesai dibangun, sepertinya semangatnya ikut menguap. Bangunan itu tak pernah benar-benar dihidupkan, tak pernah difungsikan optimal sesuai tujuannya. Alhasil, ia pun mangkrak, termakan waktu lebih dari sepuluh tahun.
Di sisi lain, justru karena ketidakfungsian itulah, gedung dua lantai ini malah jadi terkenal. Bukan sebagai pusat kegiatan umat, tapi karena hal lain. Banyak warga, bahkan dari luar daerah, mengenal tempat ini lewat cerita-cerita yang beredar. Nuansa mistis dan kisah seram seolah menjadi penghuni barunya, jauh lebih melekat daripada fungsi awalnya.
Hingga detik ini, belum ada tanda-tanda perbaikan. Rencana untuk menghidupkan kembali gedung itu juga masih gelap, tak ada kejelasan. Ia tetap berdiri, bisu, menunggu kepastian yang entah kapan datang.
Artikel Terkait
Havas Buka Suara: Palestina Punya Peran Kunci di Board of Peace
Keluarga Diserang Usai Nyaris Tabrak Pemotor di Luwu, Istri dan Tiga Balita Terluka Bakar
Dari Maya ke Nyata: Kumparan Hangout Rayakan 9 Tahun dengan Kolaborasi Komunitas
WPA Hash: Solusi Cloud Mining untuk Investor XRP yang Lelah dengan Volatilitas