Duka masih begitu pekat di Cisarua. Proses pencarian dan identifikasi korban longsor di Bandung Barat ini belum juga usai, menyisakan nestapa bagi keluarga yang menunggu.
Suasana haru dan pilu langsung terasa begitu kaki menginjak Pos DVI di Puskesmas Pasirlangu. Di lereng Gunung Burangrang itu, tangis pecah silih berganti. Keluarga korban dari Pasir Kunci dan Pasir Kuda duduk lesu, berharap-harap cemas menanti kabar orang tercinta yang masih hilang.
Wajah-wajah lelah terpantau di pelataran musala. Beberapa relawan berusaha menenangkan seorang ibu yang histeris. Yang lain hanya terduduk, tatapan kosong mereka mengikuti setiap ambulans yang masuk membawa kantong jenazah. Setiap kedatangan kendaraan evakuasi disambut gemuruh doa, yang hampir selalu disela oleh jerit tangis yang menyayat.
Menurut pantauan di lokasi pada Senin (26/1), tim SAR gabungan memang masih aktif mengangkut korban. Keluarga yang menunggu pun telah menjalani sejumlah prosedur, termasuk pengambilan sampel untuk tes DNA. Semua itu demi satu hal: memastikan identitas.
Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, memberikan update terbaru.
“Hingga hari ini, Senin 26 Januari pukul 16.57 WIB, Pos DVI Polda Jawa Barat telah menerima 34 kantong jenazah. Ada tambahan sembilan kantong hari ini, terdiri dari delapan jenazah utuh dan satu bagian tubuh,” ujarnya di lokasi.
Dari jumlah itu, kata Hendra, 20 korban sudah berhasil diidentifikasi lewat pencocokan data dan sebagian bahkan sudah bisa dipulangkan ke keluarganya. Namun begitu, pekerjaan masih panjang. Masih ada 14 kantong jenazah yang proses identifikasinya belum selesai.
“Untuk kasus tertentu yang butuh pemeriksaan DNA, waktunya memang lebih lama. Jenazahnya kami semayamkan dulu di rumah sakit rujukan,” jelasnya. Prosesnya memang tak bisa dipaksakan, butuh ketelitian ekstra.
Korban dari Kalangan Marinir
Kesedihan ini ternyata juga menyentuh kalangan TNI. Rupanya, di antara mereka yang tertimbun ada 23 anggota Korps Marinir yang sedang menjalani pelatihan. Menteri Pertahanan, Ali, mengonfirmasi kabar duka ini.
“Atas izin atasan, saya sampaikan bahwa dalam bencana di Desa Soreang ini, terdapat 23 anggota marinir yang tertimbun. Saat ini baru empat personel yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia,” tutur Ali di Jakarta.
Ali menerangkan, para prajurit itu sedang mempersiapkan diri untuk tugas pengamanan di perbatasan RI-Papua Nugini. Latihan mereka kebetulan berlangsung di daerah Cisarua. Menurut dugaan sementara, longsor hebat ini dipicu hujan deras yang mengguyur lokasi hampir tanpa henti selama dua malam berturut-turut.
“Kondisinya saat itu memang ekstrem. Hujan lebat terus-menerus, mungkin itu pemicu utamanya. Longsor menimpa warga desa dan kebetulan juga prajurit kita yang sedang berlatih,” pungkasnya.
Duka Cita dari Istana
Dari Jakarta, Istana Negara turut menyampaikan belasungkawa. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyatakan dukacita mendalam atas musibah yang menelan banyak korban jiwa ini.
“Kami sekali lagi menyampaikan duka atas longsor di Cisarua, Bandung Barat,” kata Pras di Senayan.
Di sisi lain, ia menyebut pemerintah tidak tinggal diam. Pertemuan-pertemuan informal terkait penanganan bencana, tak hanya untuk longsor ini tetapi juga banjir di Jawa utara, sudah mulai digelar. Menurut Pras, langkah penanganan sebenarnya sudah punya dasar, karena beberapa kementerian disebutnya telah memiliki desain penyelesaian yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Tapi di lapangan, yang paling terasa sekarang hanyalah duka dan penantian yang menyiksa.
Artikel Terkait
Tiga Sipir Lapas Blitar Diduga Jual Beli Kamar Sel Khusus hingga Rp100 Juta per Napi
Tim Uber Indonesia Kunci Juara Grup C Usai Comeback Dramatis Lawan Chinese Taipei
Polda Papua Bongkar Praktik Ilegal BBM Subsidi di Merauke, Negara Rugi Hingga Rp197 Juta
Kuasa Hukum Jusuf Kalla Sebut Ada Gerakan Terpola di Balik Pemotongan Video Ceramah Mati Syahid