Arus Mudik Lebaran 2025 Naik 15 Persen, Puncak Diprediksi Malam Ini

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:00 WIB
Arus Mudik Lebaran 2025 Naik 15 Persen, Puncak Diprediksi Malam Ini

Siang itu di Rest Area KM 57A Tol Jakarta-Cikampek, suasana sudah ramai oleh kendaraan pemudik. Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo, yang tengah meninjau pos terpadu, menyampaikan bahwa gelombang mudik tahun ini ternyata lebih padat. Dibandingkan hari pertama Operasi Ketupat tahun lalu, angkanya melonjak mencapai 15 persen.

“Lonjakan arus di hari pertama sudah terlihat meningkat 15 persen dibandingkan tahun lalu,” ujar Komjen Dedi, Sabtu (14/3/2025).

“Memang di hari kedua ini siang hari agak sepi, tapi kami prediksi gelombang pertama justru baru meluncur malam nanti, tanggal 14 sampai 15.”

Dia merincikan datanya. Tahun 2025, kendaraan yang lewat ruas tol hingga KM 57 ‘hanya’ sekitar 66.000. Nah, hari ini saja sudah tembus 75.000. Angka yang cukup signifikan, meski secara umum lalu lintas masih terpantau lancar.

“Kami pantau dari udara tadi, dari Jakarta sampai KM 29. Alhamdulillah, semuanya berjalan sangat lancar,” terangnya.

Menurut pengalamannya, puncak arus malam hari biasanya baru terjadi setelah waktu buka puasa dan salat tarawih usai. Selain alasan ibadah, banyak pemudik yang sengaja memilih bepergian malam hari. Alasannya klasik: menghindari teriknya matahari siang.

Karena itu, Dedi Prasetyo mengingatkan jajarannya untuk siaga penuh. Langkah antisipasi harus dioptimalkan, terutama peran tim pengurai lalu lintas.

“Tim pengurai ini penting sekali. Mereka adalah unit reaksi cepat yang harus betul-betul memonitor dinamika lapangan. Tujuannya satu: memastikan arus tetap lancar,” tegasnya.

Jadi, meski arus bertambah, kondisi hingga siang tadi masih terkendali. Tantangan sesungguhnya diperkirakan akan datang beberapa jam lagi, ketika malam mulai larut dan ribuan kendaraan lainnya memenuhi jalan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar