Prabowo Curi Waktu dengan Zidane di Davos, Bahas Mimpi Besar Sepakbola Indonesia

- Minggu, 25 Januari 2026 | 20:06 WIB
Prabowo Curi Waktu dengan Zidane di Davos, Bahas Mimpi Besar Sepakbola Indonesia

Di tengah kesibukan World Economic Forum di Davos, Presiden Prabowo Subianto menyempatkan diri untuk sebuah pertemuan yang cukup personal. Bukan dengan pemimpin negara atau CEO konglomerat, melainkan dengan legenda sepakbola yang namanya dikenal di seluruh dunia: Zinedine Zidane. Pertemuan berlangsung hangat, jauh dari hiruk-pikuk forum ekonomi global.

Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, obrolan mereka berlangsung cukup lama, nyaris tiga perempat jam. Topiknya jelas: sepakbola Indonesia. Prabowo, kata Teddy, punya keinginan besar untuk mendongkrak kualitas sepakbola nasional. Itu jadi pokok pembicaraan.

"Dalam pertemuan sekitar 45 menit itu, Presiden Prabowo menyampaikan keinginan besarnya untuk terus memajukan sepak bola Tanah Air dan Tim Nasional," jelas Teddy, Minggu (25/1).

Rupanya, visi presiden cukup mendasar. Ia membayangkan setiap sekolah di Indonesia punya lapangan sepakbola yang layak. Bukan sekadar tanah lapang, tapi fasilitas yang benar-benar bisa dipakai anak-anak untuk berlatih dengan baik.

"Serta rencananya agar setiap sekolah baru harus memiliki lapangan sepak bola yang dapat digunakan berlatih siswa sekolah & anak-anak di sekitar sekolah tersebut," ucap dia.

Tak cuma itu, beasiswa bagi siswa berprestasi dan berbakat juga disebut-sebut sebagai bagian dari rencana. Intinya, membangun dari akar rumput.

Namun begitu, Prabowo tidak hanya bercerita. Di hadapan maestro asal Prancis itu, ia juga banyak bertanya. Ia meminta masukan dan saran langsung dari Zidane tentang bagaimana cara mendorong perkembangan sepakbola nasional. Sebuah langkah yang menunjukkan ia serius ingin belajar dari yang terbaik.

Pertemuan singkat di sela forum elite dunia ini mungkin terlihat sederhana. Tapi pesannya kuat: ada perhatian serius dari pucuk pimpinan untuk membenahi sepakbola Indonesia, dimulai dari hal yang paling dasar.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar