Bayi-bayi Pengungsi Longsor Cisarua Bertarung Melawan Dingin yang Menusuk Tulang

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 21:12 WIB
Bayi-bayi Pengungsi Longsor Cisarua Bertarung Melawan Dingin yang Menusuk Tulang

Cuaca di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, terasa menusuk tulang. Bagi para pengungsi korban longsor, dingin yang ekstrem ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan ancaman nyata terutama untuk keluarga yang membawa bayi-bayi mereka. Di balik tenda-tenda pengungsian, suhu rendah menjadi tantangan berat yang harus dihadapi setiap hari.

Zahra, salah seorang pengungsi, dengan suara lirih menceritakan betapa krusialnya perlengkapan sederhana seperti selimut dan kaos kaki. Menurutnya, barang-barang itu vital untuk menjaga bayi tetap hangat.

“Kalau buat yang punya bayi, selimut sama kaos kaki itu penting. Soalnya di sini dinginnya ekstrem,”

katanya dari dalam posko pengungsian.

Namun begitu, kebutuhan tak cuma berhenti di situ. Dia juga menyoroti pentingnya persediaan obat-obatan dasar. Paracetamol, misalnya, jadi barang yang sangat dicari. Cuaca dingin yang tak kenal ampun membuat bayi rentan sekali terkena flu atau demam. “Obat kayak paracetamol juga perlu, karena bayi rawan kena flu. Dingin banget soalnya,” imbuh Zahra.

Di sisi lain, urusan logistik sehari-hari ternyata tak kalah pelik. Makanan bayi dan popok adalah dua hal yang terus-menerus dibutuhkan. Kondisi pengungsian yang padat, ditambah sanitasi yang serba terbatas, membuat pemenuhannya jadi sulit. Belum lagi antrean panjang yang kerap harus dihadapi para orang tua.

“Popok juga penting, karena kalau kondisi kayak gini, urusan sanitasi dan air kan jadi susah. Kadang harus antre, sementara bayi nggak mungkin selalu dibawa antre,”

tuturnya lagi.

Meski begitu, ada sedikit kabar baik di tengah kesulitan itu. Zahra mengakui, pasokan air bersih sejauh ini masih terbilang lancar. Hanya saja, ketika jumlah pengungsi membludak, akses ke sumber air pun ikut tersendat. “Kalau air bersih sebenarnya terhitung bagus dan lancar, cuma kalau pengungsinya lagi banyak, agak susah juga ke air,” pungkasnya.

Harapannya jelas. Bantuan yang datang ke lokasi diharapkan bisa lebih jeli melihat kebutuhan kelompok rentan terutama bayi dan balita. Dalam situasi darurat pasca-bencana, perhatian pada hal-hal spesifik seperti inilah yang sering kali menentukan kesehatan dan keselamatan mereka.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar