Cuaca di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, terasa menusuk tulang. Bagi para pengungsi korban longsor, dingin yang ekstrem ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan ancaman nyata terutama untuk keluarga yang membawa bayi-bayi mereka. Di balik tenda-tenda pengungsian, suhu rendah menjadi tantangan berat yang harus dihadapi setiap hari.
Zahra, salah seorang pengungsi, dengan suara lirih menceritakan betapa krusialnya perlengkapan sederhana seperti selimut dan kaos kaki. Menurutnya, barang-barang itu vital untuk menjaga bayi tetap hangat.
katanya dari dalam posko pengungsian.
Namun begitu, kebutuhan tak cuma berhenti di situ. Dia juga menyoroti pentingnya persediaan obat-obatan dasar. Paracetamol, misalnya, jadi barang yang sangat dicari. Cuaca dingin yang tak kenal ampun membuat bayi rentan sekali terkena flu atau demam. “Obat kayak paracetamol juga perlu, karena bayi rawan kena flu. Dingin banget soalnya,” imbuh Zahra.
Artikel Terkait
Bima Arya Tinjau Longsor Cisarua, Janjikan Hunian Sementara untuk Korban
Tim SAR Siap Lanjutkan Pencarian di Gunung Burangrang, Modifikasi Cuaca Digelar
Meninggal di Usia 26, Lula Lahfah Jadi Korban Silent Killer Henti Jantung
Tito Karnavian Buka Huntara di Agam, Desak Data Korban Segera Diselesaikan