Gibran dan Prabowo: Ketegangan Terselubung di Balik Panggung Istana

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 16:00 WIB
Gibran dan Prabowo: Ketegangan Terselubung di Balik Panggung Istana

Seketika itu juga, terasa jelas: Istana mulai gerah.

Bahkan sampai Sekretaris Kabinet harus turun tangan. Dia menjelaskan ke publik bahwa Presiden juga bekerja, juga memantau, cuma nggak semua kerjaan harus pakai kamera.

Coba pikir. Kalau sebuah kekuasaan sudah harus menjelaskan bahwa dirinya masih bekerja, artinya apa? Itu pertanda ada krisis narasi. Ada perebutan panggung. Ada yang merasa panggungnya mulai direbut.

Nah, di titik inilah, omongan Ahmad Ali dari PSI tadi jadi nggak terasa asal bunyi lagi.

Faktanya, Gibran memang nggak melebur ke dalam mesin partai koalisinya. Relawannya nggak dibubarkan. Nggak diparkir. Mereka justru dirawat.

Dengan pelan dan rapi, dia sedang membangun tiga hal paling penting dalam politik modern: brand sendiri, kanal sendiri, dan pasukan sendiri.

Kalau suatu hari nanti pecah kongsi, dia nggak mulai dari nol. Infrastruktur politiknya sudah disiapin dari sekarang. Pola ini klasik banget, mirip dengan semua "anak mahkota" yang nggak mau cuma nunggu giliran.

Di permukaan, mereka masih satu jas, satu barisan, satu panggung. Tapi di bawah meja? Permainannya sudah beda sama sekali.

Ini bukan soal siapa yang lebih rajin blusukan. Ini soal siapa yang sedang menyusun masa depan kekuasaannya, tanpa bergantung penuh pada kekuasaan yang sekarang.

Gibran hari ini memainkan peran klasik: The Silent Contender. Diam di depan umum, patuh di depan kamera, tapi agresif menyusun papan catur di balik layar.

Kegaduhan di media sosial pendukung yang mulai saling sindir, saling sikut itu bukan kebetulan. Itu percikan awal dari sesuatu yang lebih besar.

Pertanyaannya tinggal satu: pada akhirnya, dia akan tetap jadi pewaris yang sabar… atau memilih jadi penantang yang berani?

Karena dalam politik, "matahari kembar" itu nggak pernah stabil. Cepat atau lambat, salah satunya harus meredup.


Halaman:

Komentar