Gibran dan Prabowo: Ketegangan Terselubung di Balik Panggung Istana

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 16:00 WIB
Gibran dan Prabowo: Ketegangan Terselubung di Balik Panggung Istana

✍🏻 Balqis Humaira

Publik lagi disuguhi tontonan yang tampak rapi. Presiden sibuk urus geopolitik di luar negeri, sementara Wapres blusukan ke pelosok urus rakyat. Di media sosial, narasinya dijual sebagai pembagian tugas yang simetris. Elegan. Seolah-olah negara ini dikelola layaknya korporasi multinasional yang rapi. Tapi politik, ya, nggak pernah sesederhana itu.

Ketika Ahmad Ali dari PSI berkomentar bahwa Gibran bisa jadi "lawan" Prabowo di 2029, banyak yang cuma geleng kepala. Dianggapnya itu omongan nyeleneh, manuver anak muda partai yang kebanyakan mic. Namun begitu, justru komentar itulah yang bikin kita mikir: jangan-jangan ada sesuatu yang sudah bergerak di balik tembok Istana.

Mari kita lihat sejarah. Dalam politik Indonesia, posisi Wakil Presiden hampir selalu jadi ban serep. Tugas utamanya cuma satu: jangan ganggu setir. Jangan lebih bersinar dari sopirnya. Jangan terlihat lebih kerja keras ketimbang yang pegang kemudi.

Nah, Gibran jelas-jelas nggak mau masuk ke peran itu.

Alih-alih lewat jalur normal misalnya lewat kementerian atau birokrasi yang dipegang orang-orang Prabowo dia malah bikin jalur sendiri. Sebuah jalur bypass. Namanya manis: Lapor Mas Wapres.

Di mata rakyat, ini keren banget. Responsif, solutif, pemimpin muda yang turun tangan langsung. Tapi di mata kekuasaan, ini bukan sekadar inovasi. Ini semacam delegitimasi yang halus.

Pesan bawah sadarnya kira-kira begini: kalau mau masalah cepat selesai, jangan lewat menteri. Jangan lewat sistem. Langsung ke Mas Wapres aja.

Pelan tapi pasti, tanpa pidato atau drama, Gibran membangun citra sebagai The Solver. Yang kerja, yang turun, yang gerak cepat. Dan otomatis, yang terlihat lamban, ribet, dan birokratis itu… ya, kabinetnya Prabowo sendiri. Kredit politiknya mulai bergeser.

Ketegangannya makin kentara bukan cuma dari apa yang dilakukan, tapi kapan itu dilakukan.

Ada polanya. Tiap Prabowo lagi di luar negeri, lagi urus isu global yang berat, tiba-tiba di dalam negeri muncul konten: Gibran di lokasi bencana, Gibran sidak, Gibran dengarin keluhan warga.

Media sosial langsung ramai bikin narasi sendiri. "Presidennya keliling dunia, yang kerja di lapangan Wapresnya," begitu kira-kira.

Narasi ini berbahaya. Dan Prabowo bukan orang bodoh. Dia pasti nangkep sinyalnya.

Makanya muncul teguran itu. Bunyinya normatif: "Jangan wisata bencana." Tapi dalam bahasa politik, itu bukan nasihat. Itu kode keras. Teguran senior ke junior: berhenti pakai penderitaan rakyat buat bangun panggung sendiri.

Seketika itu juga, terasa jelas: Istana mulai gerah.

Bahkan sampai Sekretaris Kabinet harus turun tangan. Dia menjelaskan ke publik bahwa Presiden juga bekerja, juga memantau, cuma nggak semua kerjaan harus pakai kamera.

Coba pikir. Kalau sebuah kekuasaan sudah harus menjelaskan bahwa dirinya masih bekerja, artinya apa? Itu pertanda ada krisis narasi. Ada perebutan panggung. Ada yang merasa panggungnya mulai direbut.

Nah, di titik inilah, omongan Ahmad Ali dari PSI tadi jadi nggak terasa asal bunyi lagi.

Faktanya, Gibran memang nggak melebur ke dalam mesin partai koalisinya. Relawannya nggak dibubarkan. Nggak diparkir. Mereka justru dirawat.

Dengan pelan dan rapi, dia sedang membangun tiga hal paling penting dalam politik modern: brand sendiri, kanal sendiri, dan pasukan sendiri.

Kalau suatu hari nanti pecah kongsi, dia nggak mulai dari nol. Infrastruktur politiknya sudah disiapin dari sekarang. Pola ini klasik banget, mirip dengan semua "anak mahkota" yang nggak mau cuma nunggu giliran.

Di permukaan, mereka masih satu jas, satu barisan, satu panggung. Tapi di bawah meja? Permainannya sudah beda sama sekali.

Ini bukan soal siapa yang lebih rajin blusukan. Ini soal siapa yang sedang menyusun masa depan kekuasaannya, tanpa bergantung penuh pada kekuasaan yang sekarang.

Gibran hari ini memainkan peran klasik: The Silent Contender. Diam di depan umum, patuh di depan kamera, tapi agresif menyusun papan catur di balik layar.

Kegaduhan di media sosial pendukung yang mulai saling sindir, saling sikut itu bukan kebetulan. Itu percikan awal dari sesuatu yang lebih besar.

Pertanyaannya tinggal satu: pada akhirnya, dia akan tetap jadi pewaris yang sabar… atau memilih jadi penantang yang berani?

Karena dalam politik, "matahari kembar" itu nggak pernah stabil. Cepat atau lambat, salah satunya harus meredup.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar