Lalu yang ketiga, mengorganisir massa bayaran. Biar tercipta kesan seolah-olah publik menolak kebijakan penertiban itu.
Terakhir, serangan politik dan hukum tetap jadi senjata andalan. Mulai dari kriminalisasi, framing media, sampai tekanan halus ke aparatur negara.
tegasnya.
Di sisi lain, Said Didu menekankan bahwa langkah penertiban ini bakal jadi ujian berat bagi konsistensi pemerintahan. Ia mengingatkan, penegakan hukum jangan cuma seremonial atau berhenti di satu dua kasus saja. Harus menyeluruh, dan yang paling penting: tanpa pandang bulu.
katanya.
Ia juga mengajak masyarakat yang masih peduli pada kedaulatan bangsa untuk memberi dukungan. Dalam situasi seperti ini, dukungan publik bisa jadi tameng. Tanpa itu, tekanan oligarki bisa sangat kuat dan berisiko menggagalkan agenda.
jelas Said Didu.
Artikel Terkait
Dua Remaja Korban Ledakan Petasan di Nganjuk Tak Tercover BPJS, Biaya Perawatan Mengganjal
Jonathan Miliano Alami Cedera ACL Kedua, Absen dari FIFA Matchday Series
Atalanta Siap Hadapi Bayern Munchen di Malam Ajaib Liga Champions
Bhayangkara Lampung FC Bangkit dari Ketertinggalan, Kalahkan Arema FC 2-1