Dari Penolakan di Ruang Operasi, Lahir Hijab Bedah Pertama di Dunia

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:40 WIB
Dari Penolakan di Ruang Operasi, Lahir Hijab Bedah Pertama di Dunia

Nama Dr. Farah Shaheera Roslan belakangan mencuat di panggung internasional. Dokter bedah asal Malaysia ini berhasil menciptakan hijab bedah steril sekali pakai yang pertama di dunia. Sebuah terobosan yang lahir dari pengalaman pahit.

Semuanya berawal saat dia masih magang di University Hospitals of Derby and Burton NHS Trust, Inggris. Suatu hari, dengan penuh hormat, Roslan diminta keluar dari ruang operasi. Alasannya? Kekhawatiran terhadap pengendalian infeksi karena jilbab tradisional yang dia kenakan sepanjang hari itu. Kejadian itu tentu saja meninggalkan kesan mendalam.

Namun begitu, Roslan tidak larut dalam kekecewaan. Dia justru mencari "jalan tengah" antara komitmen agamanya dan panggilan karier di dunia bedah. Pikirannya lalu terbang ke Malaysia, mencari inspirasi. Bersama mentornya, dokter bedah konsultan Gill Tierney, mereka mulai bereksperimen. Berbagai jenis kain dan desain diuji satu per satu, mencari formula yang pas antara steril, nyaman, dan sesuai syariat.

Usaha itu tak sia-sia. Pada Desember 2019, rumah sakit tempatnya magang itu membuat sejarah. Mereka menjadi institusi pertama di Inggris yang secara resmi memperkenalkan hijab sekali pakai untuk staf medisnya. Sebuah kemenangan kecil yang berdampak besar.

Prestasi ini pun tak luput dari perhatian. Roslan dianugerahi gelar Dokter Terbaik Tahun Ini (2019) oleh Nottingham University Hospitals. Pujian juga datang dari jauh, tepatnya dari tanah kelahirannya.

Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Tan Sri Dr. Noor Hisham Abdullah, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas karya putri bangsa ini.

Di sisi lain, perjalanan Dr. Farah belum berakhir. Kini, dia aktif berkolaborasi dengan Asosiasi Medis Islam Inggris (BIMA). Tujuannya jelas: menyusun pedoman klinis yang jelas soal penggunaan hijab di lingkungan medis. Impian besarnya? Agar inovasinya bisa memengaruhi kebijakan global, bahkan di tingkat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sebuah langkah yang membuktikan, bahwa hambatan seringkali justru melahirkan solusi yang mengubah banyak hal.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar