Rupiah Menguat ke Rp17.944 per Dolar AS, Pulih dari Level Terlemah

- Rabu, 10 Juni 2026 | 17:45 WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.944 per Dolar AS, Pulih dari Level Terlemah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berhasil membalikkan tren pelemahan dan ditutup menguat pada perdagangan hari ini. Mata uang Garuda tercatat naik 114 poin atau 0,63 persen ke level Rp17.944 per dolar AS, pulih dari posisi sebelumnya yang berada di Rp18.058 per dolar AS.

Penguatan serupa juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikeluarkan Bank Indonesia. Indikator tersebut bergerak menguat ke level Rp17.971 per dolar AS dari posisi sebelumnya yang mencapai Rp18.141 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menjelaskan, pemulihan rupiah terjadi seiring membaiknya sentimen pasar dan langkah stabilisasi yang diambil oleh otoritas moneter. Menurutnya, setelah sempat menyentuh level terlemah di Rp18.190 per dolar AS pada awal pekan, rupiah perlahan menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

“Setelah sempat menyentuh level terlemah di Rp18.190 per USD pada awal pekan, rupiah mulai menunjukkan pemulihan seiring membaiknya sentimen pasar dan langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia,” ucapnya.

Kendati demikian, pergerakan rupiah dinilai masih berpotensi fluktuatif. Pasar terus mencermati perkembangan sentimen global maupun domestik yang dapat memengaruhi arah nilai tukar dalam waktu dekat. Perhatian investor saat ini masih tertuju pada eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengubah minat terhadap aset berisiko.

Di sisi lain, pelaku pasar juga tengah menanti rilis data inflasi Amerika Serikat. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve selanjutnya. Amru menambahkan, jika inflasi AS masih tinggi, dolar AS berpotensi menguat karena pasar akan memperkirakan suku bunga tetap tinggi lebih lama. Sebaliknya, apabila inflasi lebih rendah dari perkiraan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dapat berkurang.

“Jika inflasi AS masih tinggi, dolar AS berpotensi menguat karena pasar akan memperkirakan suku bunga tetap tinggi lebih lama. Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dapat berkurang,” ungkapnya.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan kepercayaan pasar terhadap komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Amru menilai, penguatan rupiah setelah pengumuman kenaikan suku bunga menjadi bukti nyata efektivitas kebijakan tersebut.

“Hal ini terlihat dari penguatan rupiah setelah pengumuman kenaikan suku bunga. Selain itu, komunikasi aktif BI dengan investor global juga turut membantu menjaga optimisme terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan Indonesia,” kata dia.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar