Suara Gaza yang Tak Bisa Dibungkam: Mosab Abu Toha dan Seruan untuk Menentukan Nasib Sendiri

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB
Suara Gaza yang Tak Bisa Dibungkam: Mosab Abu Toha dan Seruan untuk Menentukan Nasib Sendiri

Leave Gaza alone

✍🏻 Mosab Abu Toha

Jalan menuju perdamaian sebenarnya tak serumit yang dibayangkan. Menurut Mosab Abu Toha, kuncinya sederhana: hentikan pendudukan, dan kembalikan hak-hak rakyat Palestina yang telah direnggut sejak 1948. Itu saja.

Kami, rakyat Palestina, harus jadi penentu utama masa depan kami sendiri. Mustahil bicara soal perdamaian sementara tanah kami dijajah, hidup kami dikungkung, dan suara kami tak didengar. Rasanya seperti lelucon pahit.

Dan perdamaian itu jelas tak bisa dipaksakan oleh pihak-pihak yang justru ikut menciptakan nestapa kami. Kalian pasti tahu siapa yang saya maksud.

Intinya, berhentilah mendukung para penindas kami. Hentikan dukungan pada mereka yang membunuh rakyat kami.

Mosab Abu Toha bukan nama asing lagi. Dia seorang penulis dan penyair asal Gaza, juga seorang cendekiawan sekaligus pustakawan. Dialah orang di balik berdirinya Perpustakaan Edward Said perpustakaan berbahasa Inggris pertama di Gaza.

Namun hidupnya tak mudah. November 2023 silam, dia sempat ditahan pasukan Israel saat berusaha mengungsikan keluarganya ke Mesir. Setelah melalui proses interogasi, akhirnya dia dibebaskan.

Kini, dari kejauhan, dia terus menuliskan catatan sejarah perang. Karyanya yang tajam dan menghunjuk jiwa di The New Yorker bahkan mengantarnya meraih Penghargaan Pulitzer untuk Komentar pada 2025. Sebuah pengakuan untuk suara yang tak pernah benar-benar ia tahan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar