Jas Hujan Laris Manis di Pasar Asemka, Pedagang Raup Untung dari Hujan Tak Henti

- Jumat, 23 Januari 2026 | 18:18 WIB
Jas Hujan Laris Manis di Pasar Asemka, Pedagang Raup Untung dari Hujan Tak Henti

"Iya, belakangan ini yang paling cepat habis ya jas hujan," ucapnya.

Laris Manis di Tangan Reseller, Model Plastik Paling Dicari

Soal harga, Roni menjelaskan untuk pembelian satuan, jas hujan di kiosnya dijual Rp 10 ribu per buah. Tapi kenyataannya, yang beli per satuan justru minoritas.

"Kalau untuk pengecer ya harganya segitu. Tapi kebanyakan belinya per lusin. Harganya bervariasi, ada yang Rp 30 ribu, Rp 45 ribu, sampai Rp 55 ribu per lusinnya," jelasnya.

Pembelian dalam jumlah besar itu, menurut Roni, biasanya untuk dijual kembali. Mereka adalah para reseller yang kemudian menjajakan jas hujan di pinggir-pinggir jalan atau lokasi strategis lainnya.

Dari sekian jenis yang ada, ternyata jas hujan berbahan plastik tipis masih menjadi favorit utama.

"Kebanyakan pilih yang plastik. Alasannya simpel dan harganya terjangkau buat mereka," katanya.

Roni, yang sudah berjualan sejak masa pandemi, paham betul seluk-beluk produknya. Meski laris, ia mengakui jas hujan plastik bukan yang terbaik kualitasnya.

"Bedanya kan di bahan. Yang murah itu plastik. Kalau yang bagus dari bahan parasut. Bahannya lebih awet, tahan panas matahari juga," paparnya.

Ia juga angkat bicara soal masalah klasik: jas hujan yang rembes. Menurut Roni, kunci utamanya ada di metode pembuatan.

"Kalau mau yang anti rembes, carinya yang model press. Itu kan tidak ada celah untuk air masuk. Kalau yang dijahit, lama-lama air bisa merembes lewat lubang jahitannya. Yang press tidak," jelas Roni dengan rinci.

Sebagai penutup, ia berbagi tips sederhana. Untuk mendapatkan jas hujan yang benar-benar kedap air, Roni menyarankan untuk mencari bahan sejenis karet dengan teknik press.

"Cari yang bahannya karet, model press. Itu yang terjamin, nggak bakal tembus air," tutupnya.


Halaman:

Komentar