Tokoh kunci di balik penemuan ini adalah Erik Thorvaldsson, atau yang lebih dikenal sebagai Erik si Merah. Kisahnya cukup dramatis. Dia adalah seorang Viking kelahiran Norwegia yang terpaksa berlayar meninggalkan Islandia setelah terlibat kasus pembunuhan. Pengasingan itu justru membawanya ke sebuah daratan baru di barat.
Dia memberi nama "Greenland" atau Tanah Hijau. Sebuah nama yang terkesan optimis, bahkan terbilang cerdas sebagai strategi marketing pada masanya. Tujuannya jelas: menarik minat para pemukim baru, meski kenyataannya sebagian besar wilayahnya diselimuti es.
Erik lalu mendirikan pemukiman Eropa pertama di tempat yang sekarang disebut Qassiarsuk. Perlu diingat, jauh sebelum kedatangan bangsa Nordik, Greenland sudah dihuni oleh kelompok-kelompok Paleo-Inuit sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Tapi dalam catatan sejarah Eropa, Erik si Merah-lah yang diakui sebagai penjelajah pertama dari benua itu yang menjejakkan kaki dan menetap di sana.
Lalu, bagaimana kondisi Greenland sekarang?
Penduduknya tak banyak. Hanya sekitar 56-57 ribu jiwa saja. Mayoritas terkonsentrasi di ibu kota Nuuk dan sepanjang pesisir barat yang bebas es. Komposisi penduduknya didominasi oleh suku Inuit Greenland, dengan minoritas warga Denmark.
Jadi, begitulah. Sebuah negara kecil di Eropa menguasai pulau terbesar di dunia. Sebuah warisan sejarah yang rumit, dimulai dari pengasingan seorang Viking, perebutan pengaruh kerajaan, hingga menjadi rumah bagi komunitas Inuit yang tangguh. Sebuah fakta geopolitis yang selalu menarik untuk diamati.
Artikel Terkait
Demokrasi dalam Cengkeraman: Kedaulatan Rakyat Dikaburkan oleh Permainan Elite
Modus Oplos Gas Elpiji di Semarang Rugikan Negara Rp10 Miliar
Bareskrim Beberkan Kerugian Rp 2,4 Triliun dalam Kasus Dana Syariah Indonesia
Dito Ariotedjo Buka Suara soal Asal-Usul Kuota Haji Tambahan Usai Diperiksa KPK